Media informasi seni budaya Kalimantan Barat

Haruskah Memilih Karena Ketakutan

Tanggal 27 Juni 2018 rakyat kalbar akan memilih calon gubernur dan wakil gubernur. Kita memlihnya untuk menjadi pembantu rakyat atau orang banyak di Kalimantan Barat. Tendensinya mereka diharapkan bisa mengayomi, membangun, dan memberi manfaat kebaikan dalam semua aspek kehidupan, tentunya yang berkaitan dengan jatah hidup orang banyak. Aku, kamu, dan mereka juga termasuk bagian yang sedikit dari orang banyak itu. Jadi wajar saja kalau kita memilih berdasarkan kebutuhan karena permintaan harapan atau ketakutan. Jadi memilih itu ada dua alasan, “harapan” atau “ketakutan”.

Ketika pilihan itu berlatar belakang ketakutan, maka yang memilih itu adalah jiwa ketakutan anda. Hingga ada sebagian orang mati-matian memperjuangkan pilihannya. Lantang meneriakkan pilihannya walau sebenarnya dalam kebingungan, lalu merasa paling benar dan bijak berpegang pada calon tertentu. Suara paling nyaring ketika berbicaratentang pilihannya. Knalpot motonya juga paling berisik biar bisa didengar. Sampai pada celoteh liar diwarung kopi, walau sumbang tetapi tetap dipaksakan. Inilah dogma yng lahir dari ketakutan. Takut tidak mendapat jabatan, takut tidak bisa mempertahankan jabatan, takut tidak dapat jatah pembangunan, takut tersingkirkan, yah… yang jelas ketakutan karena sempitnya pemikiran.



Sebagian orang hanya bisa terdiam. Mereka berharap seorang pemimpin itu nantinya bisa membawa perubahan, minimal bisa dirasakan juga oleh segelintir orang. Mereka menelaah, mencari referensi melalui Koran, majalah, berita internet, sosial media, dan kabar dari mulut kemulut mengenai figur pemimpin kalbar. Sampai mereka banyak dijejali suara lantang yang diberitakan, akhirnya kebingungan. Mereka juga berharap ada perubahan dalam pemerintahan, ada kemajuan dalam pembangunan, dan berharap bisa dirasakan golongan sedikit dari kebanyakan. Mereka hanya bisa diam, karena takut memlih tidak sesuai harapan. Jadi harapanpun kadang terpaksa harus berhadapan dengan ketakutan, katakutan karena tidak sesuai harapan.

Ada sebagian orang yang nampaknya “seperti tidak perduli”. Mereka hanya tersenyum menertawakan hiruk pikik, carut marut, dan hingar bingar politik yang mengalami pancaroba di bumi enggang khatulistiwa ini. Mereka akan memilih berdasarkan suara hati, tentunya dengan berbagai referensi yang mereka baca dan simpulkan mengenai pemimpin nanti. Mereka datang ke tempat pemilihan suara tanpa harapan dan ketakutan. Yah… tanpa keduanya, karena mereka hanya menggantungkan kepercayaan pada pemimpin yang nantinya menjalan pemerintahan di kalbar yang katanya kita cintai. Mereka tidak mempertanyakan kinerja atau bukti-bukti lagi. Mereka hanya datang dengan kepercayaan, namun jangan sekali-sekali kepercayaan itu dikhianati, karena mereka tidak pernah percaya lagi… tak pernah perduli.
“Intinya mereka hanya datang dan memilih berdasarkan kepercayaan kepada pemimpin untuk kejayaan kalbar di masa depan. Tanpa ketakutan…. Tanpa harapan yang dibelenggu ketakutan. Hanya keyakinan…. Hanya kepercayaan. Jadi termasuk yang manakah anda? Harapan, ketakutan, atau kepercayaan…..??? jawab dengan kejujuran…..!!!”

Advertiser