Media informasi seni budaya Kalimantan Barat

Tari Dayak Mbukak Umbung Sanggar Tampun Juah Sintang

Legenda Dara Lumau

Tari Mbukak Umbung bercerita tentang masyarakat Dayak Desa di daerah Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Tari ini menceritakan seorang gadis bernama Dara Lumau yang terkenal karena kecantikannya. Kabar kecantikan Dara Lumau didengar banyak pangeran dan pemuda diberbagai daerah Kalimantan, sehingga banyak yang datang melamarnya. Akhirnya orang tua Dara Lumau memingit anaknya dalam sebuah pondok, lalu menjadikan pondok itu menjadi batu (umbung) dengan kesaktiannya. Dia menjadikan syarat bahwa untuk dapat mempersunting anaknya, maka para lelaki harus membuka umbung batu tersebut sebagai syaratnya. Hal ini dilakukan karena keluarga Dara Lumau adalah keluarga bangsawan dan dianggap sebagai orang sakti pelindung kampung. Oleh karena itu bapak Dara Lumau ingin mempunyai menantu sakti yang nanti dapat menggantikan kedudukannya sebagai pemimpin.
Tari Dayak Kreasi Mbukak Umbung merupakan pemenang juara pertama Seleksi Tari Kreasi Dayak Provinsi Kalimantan Barat dalam acara Fesival Budaya Bumi Khatulistiwa tahun 2013/ Tari ini juga pernah di pentaskan di thailand dan texas tect tahun 2015 dan 2016. Penata tari Gabriel Manuel, M.Sn. dan penata musik Mbah Dinan


Mambang Ngelai manusia sakti

Sampailah pengunumuman itu ketelinga Mambang Ngelai, seorang pemuda sakti dari daerah Serawai. Namun sayangnya Mambang Ngelai sebearnya sudah mempunyai istri, yaitu Dara Anta. Akhirnya karena penasaran Mambang Ngelai berangkat tanpa memberi kabar kepada Dara Anta istrinya. Niatnya hanya ingin mencoba kesaktiannya, dan ingin membantu membuka pingitan batu Dara Lumau. Ia tau kalau pingitan batu itu tidak dibuka, maka Dara Lumau akan selamanya berada di dalam batu.

Sesampainya di tempat yang dituju, Mambang Ngelaipun menceritakan maksud kedatangannya. Mambang ngelaipun dipersilahkan membuka pingitan batu tempat Dara Lumau berada. Singkat cerita Mambang Ngelai berhasil membuka pingitan batu tersebut. Namun sayang, karena siapa saja yang dapat membuka pingitan batu itu adalah syarat harus mengawini Dara Lumau, maka Mambang Ngelai mau tidak mau harus mengawini Dara Lumau.

Sebelumnya Mambang Ngelai sudah memberitahu kepada keluarga Dara Lumau bahwa dia sudah mempunyai istri yang sekarang sedang hamil tua, yaitu Dara Anta. Namun syarat harus dipenuhi, karena kalau tidak Dara Lumau harus masuk kembali dalam umbuung batu. Karena kasihhan melihat Dara Lumau, dan Mambang Ngelaipun mulai tertgoda dengan kecantikannya, akhirnya dia setuju menikahi Dara Lumau.

Pesta pernikahan diadakan di rumah Dara Lumau dan dimeriahkan dengan pesta adat selama tujuh hari tujuh maalam. Sementara Dara Anta yang sudah hamil tua, sampai waktunya melahirkan. Dia merasa sangat sedih ketika mendengar Mambang Ngelai, suaminya kawin dengan Dara Lumau yang terkenal cantik. Namun dia tetap sabar menunggu kedatangan Mambang Ngelai.


Penata Tari Gabriel Manuel, M.Sn. | Penata Musik Mbah Dinan
Sumber video MR. OK

Mambang Ngelai dan Dara Anta

Setelah satu hari kelahiran anaknya, Mambang Ngelai pulang kerumah menemui Dara Anta. Dia menceritakan perihal perkawinannya dengan Dara Lumau. Sambil menahan sakit hati, Dara Lumau menyediakan makan ke hadapan Mambang Ngelai. Mambang ngelaipun memakan masakan yang disajikan dan setelah memakan masakan tersebut tubuhnya terasa gatal sampai kesekujur tubuh. Lambat laun tubuh Mambang Ngelai mulai mengeluarkan sisik. Karena rasa gatal itu semakin panas ketika di garuk, akhirnya Mambang Ngelai Menceburkan diri ke laut dan dikatakan menjadi ular besar yang oleh warga setempat disebut Nabau.

Dara Anta Merasa menyesal dengan perbuatannya yang tega memberi makan suaminya dengan ari-ari anaknya sendiri. Penyesalanpun tidak dapat merubah nasib, dengan sangat sedih Dara Lumau akhirnya pergi kepinggir sungai berharap suaminya dapat kembali. Dalam penantiannya, hinggaplah seekor belalang disusunya. Dara Anta berucap, "wahai belalang, bila kamu tidak setampan dan sesakti Mambang Ngelai, kamu tidak pantas hinggap dibadanku, kata Dara Anta sambil menepis belalang tersebut. Karena merasa dihina, akhirnya belalang itu mengutuk Dara Anta menjadi batu. Sampai sekarang batu itu bisa dilihat di daerah Sungai Melawi Kalimantan Barat. Konon kabarnya, bila air surut masih terlihat batu Dara Anta di sungai tersebut.



Dalam tari Dara Lumau ini hanya diceritakan bagaimana prosesi Mambang Ngelai membuka pingitan batu, yang akhrinya mengawini Dara Lumau. Sementara cerita selanjutnya tidak diceritakan untuk menyesuaikan dengan ide penciptaan tari dan disesuaikan dengan kebutuhan panggung.

Advertiser