Media informasi seni budaya Kalimantan Barat

Sajak Senja di Pantai Kura kura

Kisah kembara rindu

Kisah kita adalah kisah rindu. Terbalut diam diantara batu-batu. membingkai asa dalam penantian semu. Sampai waktu, berujar pada jiwa-jiwa menunggu. Kehadiranmu, kehadiranku, bercerita tentang masa lalu. Tentang rindu, tentang sebuah perjuangan, diantara senja yang semakin membeku. Lalu kisah itu kita tuturkan kembali diantara hiruk pikuk warung kopi. Kita kisahkan kembali disela-sela dinding kantor. Bahkan kita ludahkan diantara pelaminan malam kita yang semakin liar.


Sumber foto blj.co.id

Senja di pantai kura kura terasa panjang menanti geliat malam. Aku masih saja berujar pada bebatuan. Debur ombaknya adalah nyanyian sumbang kehidupan. Yah, kehidupan kita yang semakin temaram. Lalu kau bisikkan tentang seribu perjalanan. Sementara mata itu semakin redup membaca lelahnya. Kau katakan lagi, bahwa kau akan pergi. Bercerita pada senja lain bersama pengharapan. Sementara ufuk semakin saga. Kau titipkan kegundahan hidup pada warna merahnya. Lalu kaupun berucap, kembalikan masa lalu.


Sumber foto Big Stef John

Hamparan pasir di pantai kura kura. Sebuah jabaran kisah asmara kita. Kau tafsirkan bersama mimpi-mimpi yang tiada berujung. Lembar kisahnya terhampar hingga keujung tanjung batu disebelah baratnya. Cerita rindu itu kemudian kau simpul untuk dibawa pulang, lalu kau ceritakan pada malam selanjutnya. Sementara aku masih saja terdiam sambil menuliskan satu-satu kegagalan. Lalu kubungkus dengan kantong plastik untuk dibawa pulang. Sesampainya ditempat persinggahan, bungkus itu kusajikan bersama kepalsuan. Yah, kepalsuan hidup yang selama ini kita jalani. Karena nafsu kita terlalu liar untuk kita bendung. Teramat susah untuk kita akui sebagai kejujuran. Dan memang harus kita campakkan diantara senja yang semakin temaram.


Sumber foto blj.co.id

Sajak senja di pantai kura kura itu adalah sejarah penantian digerbang ajal pengharapan. Kita kembali pulang menjelajahi cerita malam yang belum habis kita tuturkan. Ketika kau peluk aku dengan sisa lelahmu, aku hanya bisa diam sambil terus membelah waktu. Sementara batu-batu itu masih di situ. Masih membingkai cerita perjuangan kita yang penuh nafsu. Membingkai rindu yang semakin berkarat bersama waktu berlalu. Lalu kisah kita hanyalah sampah sejarah berupa jejak dipasirnya, yang akan hilang ketika malam menjemput, berganti dengan cerita rindu lainnya dengan cemburu yang tidak sama, dan dusta manusia lainnya.


Sumber foto imgrum.org

Sesampainya di kota, kita kembali bergelut dengan kepalsuan. Namun kali ini kisah kita adalah perjuangan. Kisah kita adalah pencapaian kedudukan yang selama ini tidak pernah kita fahami. Namun kita terus berjuang sambil meneriakkan kata-kata kebijakan Lalu cerita itu kita bungkus lagi diwaktu lainnya. Kita bawa kembali ke pantai kura kura untuk kita ratapi. Kembali kita ceritakan pada senja di sana untuk disesali. Sementara batu-batu hanya terdiam, karena dia tidak mengenali kita lagi. Dia membaca kita sebagai manusia lain yang datang dan merintih sedih. Sedih karena perjalanan rindu. Semakin semu, semakin membisu, terbaca angin berlalu.


Sumber foto blj.co.id

Ketika kita sudah mencapai lelah selanjutnya, kita belum juga menyadari kalau yang kita jalani adalah kepalsuan. Perjalanan kita adalah dusta dalam pengharapan. Kita tertipu nafsu dalam lautan asa penantian. Sementara senja semakin kelam dan batu-batu di pantai kura kura itu semakin menghitam. Hanya satu yang kita fahami. Senja di pantai itu bukan lagi senja yang dulu pernah ada. Batu dipantai itu bukan lagi batu sejarah kita. Pasir dipantai itu bukan lagi menyisakan jejak langkah kita. Sementara pantai kura kura akan terus begitu. Membingkai rindu, menyadur aksara masa lalu. Tentang kelamnya kehidupan yang kita jalani. Akan terus begitu, dan tetap saja begitu. Itulah rindu kita yang semakin buram, yang kita bacakan dalam Sajak senja di pantai kura kura.


Sumber foto Hiveminer



Sumber foto utama bernas.id

Advertiser