Media informasi seni budaya Kalimantan Barat

Panembahan Inak Bapusat II

Panembahan Inak Bapusat II

Cerita Panembahan Inak Bapusat II merupakan kelanjutan dari cerita sebelumnya. Saya sarankan anda membacanya agar jangan terjadi kesalahfahaman, runut, dan mudah dimengerti. Kalau anda membacanya dari Panembahan Inak Bapusat, saya jamin pasti menarik. Silahkan baca artikelnya disini.

Cerita Panembahan Inak Bapusat sampai Kerajaan Mempawah merupakan cerita rakyat. Sementara terdapat perbedaan dengan catatan sejarah kerjaan mempawah itu sendiri. Namun begitu cerita ini hanya lebih mengaitkan inti certia pada kisah Panembahan Inak Bapusat. Mungkin ini mengandung kontroversi, namun saya harap pembaca bisa mengambil kebaikan dari cerita. Selamat membaca. Ditulis kembali dari sumber Yohanes Supriyadi.

Panembahan Inak Bapusat Kedatangan 40 kapal

Akhirnya kira-kira 30 tahun kemudian, kerajaan Ina Bapusat dikagetkan dengan bunyi letusan meriam sebanyak 7 (tujuh) kali dikuala sungai Bangkule Rajakng. Raja Singaok Panambahan Inak Bapusat kaget dan memerintah dua orang mata-mata melihat keadaan di Sungai Mempawah. Dilihatnya ada empat puluh buah perahu layar perahu besar kecil. Mata-mata tadi pulang dan langsung lapor kepada Raja Singaok. Panambahan Singaok memerintahkan Menteri dan Hulu Balang berangkat ke Kuala supaya mempersilahkan tamu tersebut masuk ke Istana Raja Singaok.

Beberapa hari kemudian tamu tiba di Kerajaan Singaok dengan tujuh buah perahu kecil sedangkan 33 masih menunggu di Kuala. Raja Singaok menyambut kedatangan tamu dan membawanya langsung keistana. Oleh karena rombongan tamu cukup banyak maka tidak masuk semua tetapi berjaga-jaga dihalaman istana.

Raja Singaok Panambahan Inak Bapusat duduk bersama istrinya Putri Cermin, serta didampingi oleh Panglima-Panglima, para Menteri, dan tidak ketinggalan pengawal yang sangat terkenal yaitu Nek Cobe dari desa Saba’u Lumut (± 2 Km sebelah Timur kota Menjalin sekarang Kabupaten Landak). Sedangkan tamu duduk bersama istri dan dikawali juga oleh kawan-kawannya.

Panambahan Inak Bapusat memulai pembicaraannya, “Siapakah kiranya Tuan Muda yang pada hari ini datang menghadap aku dan dari negeri mana dan apa keperluannya. Aku adalah Raja Singaok, bergelar Panambahan Inak Bapusat, bernama asli Sengkuwuk, dan kerajaan ini letaknya dihulu sungai Bangkule Rajakng, sekian sabda Raja.

Panembahan Inak Bapusat menerima kejutan

Tamu berdiri sebentar bersama istrinya dan menundukan kepala tanda hormat dan ia pun berkata, Ampun Tuanku. Hamba ini bernama Daeng Manambon anak Raja Bugis dari kerajaan Bone. Sedangkan pulau ini jauh keseberang laut, kami datang kemari memakai 40 buah perahu besar dan kecil serta anak buah 400 (empat ratus) orang. Kedatangan kami kemari keperluan dagang, membeli rempah-rempah barang-barang makanan dan obat-obatan. Keperluan yang lain yaitu keperluan yang paling penting adalah asal usul istri hamba ini. Istri hamba ini bernama Ratu Kesumba.

Kemudian Opu Daeng Manambon melanjutkan bicaranya, “Menurut cerita ayah saya, beberapa puluh tahun yang lalu perahu-perahu bugis dibawah pimpinan ayah saya berlayar ditengah laut. Melihat sebuah peti terapung-apung diatas laut. Ayah saya memerintahkan anak buahnya untuk mendekati dan mengambil peti itu. Setelah dibuka ternyata didalam peti ini ada seorang bayi perempuan. Bayi ini kelihatannya sudah agak lemah dan segera dibersihkan dan diberi minum. Dalam peti ini masih ada barang kata anak buah perahu yang lain. Dalam peti ini ada cincin kerajaan, ada selendang, peta asal usul anak ini. Selanjutnya sebuah perahu diperintahkan pulang kenegeri kami dan diserahkan anak ini kepada ibu saya.

Sementara Panambahan Inak Bapusat dan istri, para Menteri, para Panglima, dan Nek Cobe terus mendengar cerita Daeng Manambon. “Setelah dewasa anak tadi oleh bapak saya dikawinkan dengan saya, Daeng Manambon. Setelah kawin beberapa bulan, entah bagaimana ketika istri saya membersihkan sebuah lemari tua, dilihatnya sebuah kotak dan dibuka, dilihat ada satu cincin, selendang, dan peta serta riwayat tentang dirinya. Satu bulan kemudian, istri saya mengusulkan untuk pergi berkunjung mencari dimana asal usulnya. Akhirnya saya dan istri saya meminta ijin kepada ayah dan pergi menyisir menyisis sebelah selatan. Berdasarkan petunjuk peta bahwa kuala sungai yang dicari ada sebatang pohon asam pauh besar dan rindang. Inilah petunjuk peta yang kami ikuti. Akhirnya pada hari ini kami sampai dihadapan Tuanku.

Selanjutnya Daeng Manambon mempersilahkan istrinya bicara. Istrinya berkata, "saya ini anak bapak, anak ibu". Panambahan Inak Bapusat berdiri dan berkata, “saya tidak pernah mempunyai anak permpuan. Putri Cermin, istri Panambahan Inak Bapusat menangis tersedu-sedu. Pengawal Raja Singaok, tercengang melihat kejadian tersebut. "Ini bukti" kata Putri Kasumba, sambil memperlihatkan cincin dan selendang Kerajaan Singaok. Istri Daeng Manambon berkata lagi, “Menurut cerita yang saya miliki bahwa Bapakku Raja Singaok mempunyai sebilah keris sakti itupun saya minta!!!”. Kalau begitu kata Panambahan Inak Bapusat, “Hancurlah Kerajaan Singaok ini”.

Istri Daeng Manambon tetap berkeras meminta keris. Bagaimanapun kata Raja, "keris ini tidak bisa saya serahkan". "Kalau begitu", kata anaknya "terpaksa kita perang. Anak lawan Bapak, Raja Singaok lawan anak Raja Bugis". Putri Cermin menangis terus. Para pengawal, para Panglima dan para Menteri semua tidak bergeming untuk meninggalkan tempat, sementara rakyat berdatangan ingin tau perihal tamu dari Bugis tersebut.

Akhirnya Panambahan Inak Bapusat Raja Singaok siap mempertahankan Kerajaan Singaok, dan pasukan Daeng Manambon siap untuk menyerang kerajaan Singaok. Diumumkan bahwa pasukan Daeng Manambon akan menyerang sepuluh hari yang akan datang.

Peperangan Penembahan Inak Bapusat

Pasukan Panambahan Inak Bapusat, Raja Singaok menghadang dikuala sungai Malinsapm, kiri kanan Sungai Bangkule Rajakng (Sungai Mempawah) tepatnya di Desa Pinang Sekayu (Dalam bahasa Dayak Kanayatn artinya sebatang dan sampai sekarang ini lokasi itu masih bernama Pinang Sakayu).

Sepuluh hari kemudian, pasukan Daeng Manambon menyerang melalui sungai Bangkule Rajankng menggunakan 40 buan perahu dengan jumlah anak buah sebanyak 400 orang. Sementara Raja Singaok dan pasukannya telah siap di Desa kecil yang bernama Pinang Sekayu. Tak lama kemudian para pemancing (mata-mata) datang menghadap dengan membawa kabar bahwa pasukan Daeng Manambon sudah tiba.

Dari kejauhan sudah terlihat pasukan Daeng Manambon yang menggunakan 40 buah perahu dan 400 pasukan. Sungai Bengkule Rajakng penuh oleh pasukan Daeng Manambon. Sekitar lima puluh meter jarak pasukan Daeng Manambon mendekati Raja Singaok, Panambahan Inak Bapusatpun berdiri mencabut kerisnya yang kemudian ditancapkannya ke sungai. Setelah itu iapun bangkit berdiri sambil mengangkat tangannya yang sedang memegang keris pusakanya. Seketika sungai tersebut mengeluarkan api. Panambahan Inak Bapusat berseru, “Hai prajuritku, siap ditempat dan perhatikan apa yang sedang terjadi. Hati-hati anak buahku, ingat pantang, Air sungai tidak boleh terkena darah!. Awas, Air sungai tidak boleh terkena darah!!!".

Pada suatu pertempuran sengit, salah satu prajurit Opu Daeng Manambon terpeleset didepan Nek Cobe. Karena reflek, Nek Cobe menebas batang lehernya dan putus, kemudian mayat anak buah Daeng Manambon tersebut terguling ke sungai. Seketika itu air menjadi merah terkena darah dan api yang tadinya berkobar diatas sungai seketika itu padam. Daeng Manambon melihat api disungai sudah padam, maka ia menyusun kekuatan armadanya kembali. Setelah pasukannya terkumpul, Daeng Manambon menyerang kembali. Akhirnya peperangan tersebut dapat dimenangkan oleh Opu Daeang Manambon dan istrinya, Putri Kesumba.

Kekalahan Panembahan Inak Bapusat

Pasukan Daeng Manambon sampai dipangkalan Singaok, Putri Cermin istri dari Raja Singaok yang tinggal ditempat menunggu dihalaman Istana. Ibu dan anak berpeluk-pelukan, Daeng Manambon pun datang dan mencium ibu mertuanya dan mengiringnya masuk perahu. Beberapa hari kemudian, Daeng Manambon mengadakan pesta di bawah pohon asam pauh (Asam Pauh atau Mampelam Pauh adalah asal dari kata Mempawah) dengan mengundang penduduk sekitar. Acara pesta besar tersebut dilaksanakan selama tujuh hari tujuh malam. Pesta atau makan-makan tersebut diadakan untuk memperingati kemenangan dalam perang di Singaok melawan Panambahan Inak Bapusat. (Acara tersebut masih diperingati atau dilaksanakan setiap tahunnya di Kuala Mempawah sampai saat ini yang dikenal dengan upacara Robo’-robo.)

Panambahan Inak Bapusat yang kalah perang lari mudik melalui Sungai Malinsapm bersama para pengawalnya dan tiba dirumah Nek Mantok orang Gado’, disanalah ia menceritakan asal usul peperangan. Seterusnya kekalahannya dan tidak lagi membayar pajak. Salah satu yang rajin bercerita adalah Nek Cobe orang Seba’u. Dari sinilah asal-usulnya cerita ini diceritakan turun temurun oleh masyarakat Dayak Kanayatn dan sebagian Dayak Banyuke.

Di atas diceritakan bahwa Panambahan Inak Bapusat bermalam di rumah Nek Mantok. Ketika ia baru turun tangga Keris Raja hampir jatuh, sehingga istri Nek Mantok berteriak, “Keris Tuanku Mau Jatuh.” Rajapun menoleh ke belakang, keris memang sudah jatuh. Rajapun berkata, “ Tujuh keturunan keluargamu murah rejeki hai keluarga Mantok “. Konon kabarnya keturunan Nek Mantok ini mudah dapat rejeki, berladang sedikit dapat padi banyak sampai sekarang.

Wafatnya Panembahan Inak Bapusat

Keris Pusaka Panambahan Inak Bapusat berhasil diambil dan tetap tersisip di pinggang Raja. Panambahan Inak Bapusat meneruskan perjalanannya dan akhirnya sampai di Meliau daerah Kapuas. Beliau bermalam di rumah seorang Timanggong. Sekian hari di Meliau, beliaupun mangkat atau meninggal dunia. Raja Panambahan Inak Bapusat dimakamkan oleh masyarakat Meliau dibawah rumpun pisang tidak jauh dari halaman rumah yang ditempati untuk bermalam.

Tiga hari kemudian, beberapa orang kampung bermimpi, bahwa Raja Singaok tidak mau diam di Meliau dan ia sudah berangkat. Untuk membuktikan dari mimpi tersebut, orang kampung meliaupun beramai-ramai datang untuk melihat kuburan Raja tersebut. Setelah sampai apa yang terjadi membuat masyarakat kampung meliau tercengang. Kuburan Raja sudah kosong seperti ada orang yang menggali, petinyapun tidak ada.

Pemakaman Panembahan Inak Bapusat

Didesa Samap dan Desa Kuala Nyawan kira-kira jam dua dini hari ada bunyi orang ramai bahkan ada yang berteriak-teriak minta tolong. Orang kampong tidak menghiraukannya. Keesokan harinya orang kampung saling bertanya tapi tidak ada yang tahu apa gerangan keramaian yang di dengar meraka. Orang-orang dari kampung Samap melihat ada bekas jejak orang ramai dilokasi yang diperkirakan sumber keramaian. Orang yang melihat pada heran kemudian mereka kembali kerumah sambil ada yang bergumam, “Ada orang membikin titi (penyebrangan) untuk menyebrang sungai Bangkule Rajakng”. Hal ini ditandai terlihat bekas kaki ratusan orang ditempat yang berair (becek). Tempat membuat titi penyebrangan tebingnya meninggi dari biasanya sekitar tiga meter. Sekarang lokasi tersebut dinamai kampong Titi Antu (titian hantu) yang berada di Desa Sepang Kecamatan Toho Kabupaten Pontianak, karena penduduk hanya mendengar orang membuat titian penyeberangan namun tidak pernah melihat orang yang membuatnya.

Sementara penduduk meliau yang bermimpi bahwa jasad Panambahan Inak Bapusat hilang dan pulang ke Istana Singaok. Satu rombongan Pemuka masyarakat Meliau berkunjung ke Singaok untuk membuktikan kebenaran dari mimpi tersebut. Setelah sampai di Singaok, mereka bermalam dan menceritakan maksud kedatangan mereka. Keesokan harinya masyarakat Singaok bersama orang Meliau pergi kebekas Istana Kerajaan Singaok. Ketika tiba ditengah Istana ada sebuah kuburan baru yang ditandai dengan sebuah batu besar (sampai sekarang masih dapat dilihat). Melihat ada kuburan disana, orang-orang saling bertanya, namun semua mengatakan tidak pernah mengetahui kalau ada kuburan di tempat tersebut. Akhirnya Pemuka Adat, Orang tua, ditambah lagi dengan Pemuka yang datang dari Meliau berkesimpulan bahwa itulah jawaban dimimpi masyarakat Meliau. Itulah kuburan Panambahan Inak Bapusat, yang wafat atau mangkat di Meliau dan dikuburkan disana tetapi dipindah oleh makhluk halus ke lokasi bekas Istana Singaok. Hingga saat ini kuburan Panembahan Inak Bapusat masih bisa dilihat.

Advertiser