Wednesday, January 3, 2018

Panembahan Inak Bapusat

Prolog dari penulis Cerita Asal Kerajaan Mempawah

Cerita asal kerajaan Mempawah ini tidak ditinjau dari segi sejarah, namun dilihat dari cerita rakyat yang berhubungan dengan cerita Kerajaan Kudung yang berakhir pada Panembahan Inak Bapusat (Raja tanpa pusat atau puser). Pada sisi lainnya, kerajaan Mempawah dimulai dari pemerintahan Opu Daeng Manambon sampai sekarang mengalami masa kejayaan diberbagai bidang. Saya sendiri sebagai penulis sadar, bahwa cerita ini tidak dapat diperkuat sepenuhnya dengan catatan sejarah yang nyata (tertulis), namun setidaknya dapat menyampaikan sisi lain informasi yang juga berkembang pada sebagian masyarakat. Saya harap pembaca bisa mengambil kebaikan pesan dalam cerita ini.

Cerita Asal Kerajaan Mempawah
Sumber foto utama Indonesia Kaya

Terima kasih kepada Yohanes Supriyadi, seorang blogger budaya Kalimantan Barat yang telah bersedia memberikan referensi penuh atas tulisan ini. Semoga bisa memberi pencerahan tersendiri bagi pembaca. Amin Allahumma Amin.

Maniamas, Ranto, dan Gurete

Pada zaman dahulu , tersebutlah perempuan janda yang mempunyai seorang anak perempuan. Ia tinggal di desa dekat Mototn Bawang (Gunung Bawang Kabupaten Bengkayang). Anak janda tersebut bernama Maniamas yang berparas cantik dan baik budi bahasanya. Dirumah janda tersebut tinggal pula (menumpang) dua orang bersaudara bernama Ranto dan Gurete. Adapun ibu Ranto dan Gurete masih bersaudara sepupu satu kali dengan ibu Maniamas, jadi masih satu turunan dari nenek. Ranto dan Gurete adalah lelaki gagah perkasa dan rajin bekerja.

Pada suatu ketika terjadi peristiwa di Motont Bawang, yaitu Mamo yang merupakan lelaki pendatang melarikan perempuan setempat. Hal ini merupakan hinaan bagi masyarakat kampung, jadi para tetua adat dan para pemuda di Motont Bawang bermupakat mencari Mamo. Akhirnya mereka berangkat, termasuk Gurete adik Ranto ikut dalam mencari Mamo tersebut.

Sementara Ranto tidak ikut pergi dengan alasan sakit. Sebenarnya Ranto (abang Gurete) tidak ikut pergi karena ingin berduan dengan Maniamas yang ternyata dicintai secara diam-diam. Rombonganpun berangkat, Berbulan-bulan, bahkan sudah satu tahun, tidak ada kabar berita tentang Gurete apakah masih hidup ataupun mati. Sampai pada suatu ketika Gurete pulang dan dari jauh Gurete sudah berteriak, “Nu’ Uda’… apa yang berbau busuk dirumah ini?“

Udanya (ibu Maniamas) menjawab, “ Apalah mau dikata, adikmu hamil 3 bulan”. Gurete marah besar dan bertanya, “siapa orangnya yang menganggu? Dengan rasa sesak Ibu maniamas menjawab singkat sambil menunduk, “Ranto…!!!”. “Kemana dia mak Uda” Gurete bertanya lagi. “ke ladang” jawab mak udanya.

Gurete pun ngambil tangkitn (senjata khas Dayak Kanayatn) dan langsung di asahnya sambil berucap “akan aku cincang Ranto dan Maniamas”. Rupanya Gurete diam-diam juga mencintai Maniamas. Ranto mengetahui bahwa Gurete sudah pulang, ia pun lari entah kemana, Sedangkan Maniamas melarikan diri masuk keluar hutan, lari kearah selatan Gunung Bawakng, lalu sampai didaerah Sangking di Gunung Sadaniang sambil menunggu waktu kelahiran anak yang dikandungnya. Rupanya kelahiran anak itupun tidak menunggu waktu lama, karena anak yang dilahirkannya juga tidak wajar. Maniamas melahirkan bukan manusia, tetapi Sebilah keris. Setelah melahirkan meniamas hilang entah kemana.

Nek Sayu’ dan Keris Menangis

Nek Sayu’ seorang kepala Desa Sangking yang tinggal di Dusun Galumakng. Nek Sayu’ berladang di pinggiran Gunung Sadaniang. Pada suatu hari nek Sayu’ pergi mencari rotan tidak jauh dari ladangnya. Tiba-tiba Nek Sayu’ mendengar tangisan seorang anak. Nek Sayu’ heran masa di hutan begini ada anak orang menangis, mungkin ini hantu pikir Nek Sayu’. Akhirnya Nek Sayu’ pun memberanikan diri pergi mencari dari mana datangnya tangisan itu. Nek Sayu’ mendapati tangisan itu berasal dari atas pohon. Diapun memanjat pohon tersebut. Sesampainya di atas pohon, dengan aneh tangisan itu berpindah ke bawah. Ketika Nek Sayu’ turun, suara tangisan itu terdengar menggantung disangga belitan rotan.

Ketika Nek Sayu’ duduk termenung, benda menangis itupun berkata, “hai Sayu’ kalau kamu ingin memiliki aku, kamu pinjam selendang raja untuk menyambut dan menggendong aku. Nek Sayu’ pun tanpa berpikir panjang, langsung pergi ke istana Raja Kudung di Singaok. Sampai di Istana Raja Kudung, Nek Sayu’ mengutarakan niatnya untuk meminjam selendang Raja selama satu minggu untuk hal yang sangat diperlukan. Raja Kudung mengabulkan permintaan Nek Sayu’, karena Raja memandang Nek Sayu’ seorang kepala Desa yang patuh kepada Raja.

Setelah Nek Sayu’ datang dibawah benda menangis tadi, Nek Sayu’ berkata, hai benda menangis, ini selendang Raja yang kamu minta… silakan,… turunlah !!!” Nek Sayu’ pun menadahkan selendang dibawah benda itu. Seketika benda itu terjun diatas selendang dan alangkah terkejutnya dia, bahwa yang menangis itu bukan anak orang, tetapi sebilah keris yang tidak bertangkai. Nek Sayu’ pun membawanya pulang ke rumah.

Ketika selendang Raja diganti dengan selendang lain, keris akan menangis. Nek Sayu’ akhirnya menjadi susah karena selendang Raja yang tadinya dipinjam satu minggu, sekarang sudah tiga bulan belum dikembalikan. Sudah tiga bulan pula dia tidak membayar pajak pada Raja Kudung. Raja Kudung di Singaok merasa cemas, dia menanyakan keberadaan Nek Sayu' bersama selendangnya.

Raja Kudung dan Kehamilan Dara Rode

Akhirnya beberapa utusan Raja Kudung berangkat ke Rumah Nek Sayu’. Nek Sayu’pun menceritakan hal sebenarnya pada utusan raja. Cerita Nek Sayu' ini dibawa kehadapan Raja Kudung. Satu minggu kemudian rombongan Raja berangkat menuju rumah Nek Sayu’ di daerah Sangking, di kampung Galumakng. Setelah Raja Kudung melihat keajaiban dengan mata kepala sendiri, akhirnya Raja meminta keris tersebut dengan perjanjian Nek Sayu’ dan daerahnya tidak usah membayar pajak. Singkat cerita keris diserahkan kepada Raja Kudung.

Keris digendong oleh Raja Kudung menuju Kerajaan Singaok. Keris tadi diserahkan kepada Putrinya Dara Rode’ untuk mengasuhnya. Setelah mungkin mendekati satu tahun, tersiar kabar bahwa Dara Rode’ hamil 3 bulan. Kabar ini membuat kalangan istana gempar, karena Dara Rode belum menikah. sampai cerita ini diketahui masyarakat luas.

Untuk menutupi malu dan berlaku adil kepada rakyatnya, Raja Kudung akhirnya memanggil seluruh rakyat untuk berkumpul di istana. Tepat pada hari yang sudah ditentukan, rakyatpun berkumpul di halaman istana. Raja Kudung datang dan naik ditempat yang sudah disiapkan lalu berkata,
“Hai Rakyatku, dengarkanlah baik-baik. Para Panglima, Para Menteri, Hulu Balang, laki-laki atau perempuan, bahwa pada hari ini saya Raja Kudung di Singaok, mengumumkan pada rakyatku semua, bahwa tersiar kabar Putri Dara Rode’ hamil tiga bulan. Setelah diselidiki kebenarannya, dan setelah ditanya oleh para pengawal, oleh dayang-dayang, dan ibunya bernama Bakelem ternyata benar adanya. Dara Rode’ mengatakan tidak ada seorang laki-laki yang pernah menggaulinya, terkecuali keris yang kuasuh ini. Malam jadi laki-laki dan siang jadi keris kembali. Oleh sebab itu pada hari ini saya Raja Singaok mengumumkan, Jika betul Putriku Dara Rode’ digauli oleh sebilah keris yang ia asuh, maka ia akan melahirkan seorang anak yang luar biasa, ia lahir tidak seperti manusia biasa, maka ia akan kuangkat menjadi Raja menggantikan aku. Baik  laki-laki atau perempuan pada hari itu juga. Akan tetapi, bila Putri Dara Rode’ melahirkan anak seperti manusia biasa, maka Dara Rode’ akan dipacung dan dicincang didepan umum".
Setelah sembilan bulan mengandung, Dara Rode’ pun merasa perutnya sakit. Pengawal dan dayang-dayang memanggil bidan untuk memeriksa Dara Rode’. Selang beberapa waktu, akhirnya Dara Rode’ melahirkan seorang anak laki-laki. Bidan mulai heran bahwa darah yang keluar bersama bayi tidak merah, melainkan putih. Dan keanehan lain lagi bahwa bayi tidak menangis dan tidak mempunyai pusat. Para pengawal memanggil Raja dan para Panglima seketika menjadi ramai menyaksikan bahwa bayi yang dilahirkan Dara Rode’ tidak seperti manusia biasa, jadi betullah bahwa yang menghamili Dara Rode’ adalah sebilah keris yang diasuhnya, siang jadi keris malam jadi manusia.

Tiga hari kemudian. Raja Kudung mengumpulkan rakyat untuk mendengarkan penngumuman. Rakyat berkumpul dihalaman Istana untuk mendengarkan pengumuman Raja.
“Pada hari ini saya umumkan, bahwa kira-kira hampir satu tahun lalu saya berbicara tentang Putriku Dara Rode. Dia sudah melahirkan seorang anak laki-laki yang berbeda dengan kelahiran anak laki-laki pada umumnya. dan ternyata lain dari kelahiran anak manusia biasa. Ia melahirkan bayi dengan mengeluarkan darah putih dan bayi itu tidak berpusat. Jadi benar adanya bahwa Dara Rode’ dihamili oleh keris. Sesuai janji yang sudah saya ucapkan, begitu anak lahir, maka ia langsung diangkat menjadi Raja Singaok mengantikan aku, dengan gelar Panembahan Inak Bapusat (Panembahan Tidak Bepusat)..

Panembahan Inak Bapusat dan Putri Cermin

Setelah Panembahan Inak Bapusat dewasa, ia dikawinkan oleh kakeknya Raja Kudung dengan seorang anak Raja dari Pulau Sumatera bernama Putri Cermin. Setelah Putri Cermin mengandung tiga bulan, Panembahan Inak Bapusat hendak berlayar dengan waktu yang tidak ditentukan. Sebelum berangkat Panembahan Inak Bapusat memanggil ahli nujum untuk mengetahui keberadaan anak dalam kandungan istrinya. Ahli nujum berkata kalau lahir seorang anak laki-laki, maka Kerajaan Singaok dibawah pemerintahan Tuanku akan kaya raya. Akan tetapi bilamana lahir seorang perempuan, maka kerajaan Tuan Inak Bapusat binasa dan kerajaan Tuan dikuasai musuh.

Panembahan Inak bapusat tidak puas dengan pendapat nujum yang pertama dan memanggil tujuh ahli nujum, tetapi pendapatnya sama. Panembahan Inak Bapusat berkata pada pengawal, kepada bidan yang ditunjuk, dan kepada isterinya, kalau anak nanti lahir laki-laki pelihara baik-baik, akan tetapi bila lahir seorang perempuan, maka ia harus dibunuh, kuburkan dekat tangga depan istana. Begitulah pesan terakhir Raja Kudung sebelum keberangkatannya ke tanah sebenrang.
Panembahan Inak Bapusat sebelum berangkat berpesan kepada istrinya, “Kalau nanti anak saya lahir laki-laki, saya beruntung. Tetapi bagaimana jadinya kalau perempuan, sanggupkah aku membunuhnya. Ya Tuhan, Jubata, janganlah anakku perempuan.
Akhirnya kandungan Putri Cermin cukup bulan dan siap melahirkan. Tidak berapa lama Putri Cermin melahirkan seorang anak perempuan. Aduh kata bidan anaknya perempuan, cantik parasnya, sehat lagi. Karena perasaan kasih sayang Ibu kepada anaknya, ia berbisik dengan bidan dan memerintahkan kawannya membuat sebuah peti yang rapat jangan masuk air. Anak yang baru lahir tadi dimasukkan kedalam peti dan diberi Cincin Kerajaan, Selendang Raja, Petunjuk tentang asal usul anak, dan peta tempat asalnya, yaitu di Kerajaan Kudung. Dengan harapan jika ia selamat, ia dapat mengetahui asal asul siapa dirinya dan dapat menuju tempat aslinya. Petipun dihanyutkan ke sungai Bangkule Rajakng (Sungai Mempawah). Untuk menutupi kebohongan tersebut dibunuh seekor kambing, dipenggal kepalanya lalu dikuburkan dekat tangga depan istana.

Beberapa bulan kemudian pun Panembahan Inak Bapusat pulang langsung menemui Putri Cermin. “Istriku, anak yang dilahirkan laki-laki atau perempuan? dijawab oleh Putri Cermin, perempuan Tuanku!“. Raja Kudung kembali bertanya, “Apakah sudah dibunuh?, Sudah dibunuh Tuanku! itu kuburannya depan Istana dekat tangga, sesuai yang diperintahkan Tuanku. Panembahan Inak Bapusat tidak menjawab dan pergi berjalan melihat kuburan Putrinya. Raja memanggil istrinya lalu duduk menghadap kuburan, keduanya menangis meratapi nasib mereka. Istana Sepi tanpa tangis bayi.
Cerita rakyat ini bersambung ke cerita Opu Daeang Manambon dan Putri Kesumba sampai Terjadinya Kerajaan Mempawah. Silahkan tunggu episode selanjutnya yang lebih seru. Salam sahabat blogger.

Bagikan

Jangan lewatkan

Panembahan Inak Bapusat
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.