Tuesday, January 16, 2018

Kisah Orang Kampung Jadi Batu Gara-gara Menertawakan Kucing

Mak Miskin dan kisah Batu Betarub

Kisah mak miskin dan batu betarub dimulai di kampung Daup, Kecamatan Galing, Kabupaten Sambas, tentang kehidupan seorang ibu dan anaknya berusia 7 tahun. Keluarga itu sangat miskin, sehingga orang menyebutnya mak miskin. Orang kampung tidak pernah peduli dengan keberadaan mereka, bahkan warga kampung seakan tidak pernah menganggap mereka ada. Selain itu warga kampung juga menghindari (tidak mau bergaul) dengan mak miskin, karena anaknya terkenal berbadan bau. Begitulah nasib mak miskin dengan anaknya yang hanya hidup dengan mengandalkan mencari kayu bakar dipinggiran hutan untuk makan sehari-hari. Bahkan saking miskinnya, mereka hanya mempunyai baju satu lembar dibadan.

Kisah Orang Kampung Jadi Batu Gara-gara Menertawakan Kucing

Suatu hari orang paling kaya di kampung Daup berencana mengadakan hajatan (selamatan) besar-besaran dan mengundang seluruh warga kampung. Mendengar adanya hajatan, anak mak miskin merasa ingin sekali pergi, karena seumur hidupnya tidak pernah ke acara seperti itu. Keinginan kuat membuat dia selalu terbayang keriuhan acara, sampai ia bergumam, ”Aku tidak pernah pergi ke acara seperti itu, alangkah senangnya hati ini kalau aku bisa datang dan makan enak di sana seperti orang kampung lainnya. Anak mak miskin kemudian memberanikan diri bertanya kepada ibunya. "Mak, apakah kita diundang diacara itu?” tanya si anak sambil menundukkan kepala. Dengan hati sedih mak miskin menjawab, ”Tak tau ye nak, cube kau tanyakan orang di situ”. Sambil mengangkat muka, terlihat wajah sedih anak menatap ibunya. Dengan lirih ia menjawab, ”Mana ada mak orang mau memberitahu kita. Aku kan bau”. Sejenak anak itu tertunduk kembali, seakan mengumpulkan kekuatan untuk menahan kesedihan karena kemiskinan mereka.

”Oh, kalau begitu biar mak saja yang bertanya” kata mak miskin memecah keheningan. Akhirnya mak miskin pergi ketetangga untuk menanyakan perihal apakah mereka diuntang atau tidak. Karena bagi warga sambas, pantang datang kalau tidak diundang. ”Wahai saudara, apakah aku dan anakku diundang diacara hajatan itu?” Sambil membuang muka tetangganya menjawab, ”Tak tau ye. Sepertinye tak ade. Aku cuma mengundang orang yang namanye ade di sini”. Seakan dia menunjukkan hanya mengundang orang yang dianggap ada dikampung tersebut, sementara keluarga mak miskin tidak pernah dianggap ada karena mereka miskin. Mak miskin hanya terdiam sambil menunduk malu dan kalau tidak ada orang kampung yang peduli dengan keberadaan mereka.

Kemudian mak miskin pamit dan memberitahukan kapada anaknya kalau mereka tidak diundang pada acara hajatan itu. Akan tetapi si anak ingin sekali pergi seperti orang lain yang dapat makan enak saat acara selamatan besar. Akhirnya sianak berucap kepada ibunya, ”Mak, aku harus pergi ke acara itu apapun yang terjadi” Sambil berlalu keluar membawa kesedihannya. Mak miskin meneteskan air mata melihat kepergian anaknya. Dia tau kalau anaknya sangat tertekan dengan keadaan hidup, namun masih mau bertahan karena rasa sayang si anak kepada ibunya.

kisah mak miskin dan batu betarub

Anak Mak Miskin pergi hajatan

Tibalah hari pelaksanaan acara hajatan besar di kampung Daup. Orang kaya sebagai tuan rumah membuat tarub untuk undangan kehormatan, termasuk warga kampung yang menempati tarub disebelahnya. Begitu acara dimulai, berdatanganlah orang sekampung dan para udangan dari kampung lain. Melihat orang sekampung pergi ke acara itu, anak mak miskin ikut pergi dibelakangnya. Ketika sampai gerbang masuk tarub, dia ditahan oleh si penjaga. Dengan sombong dan tanpa belas kasihan sipenjaga itu menghardiknya. ”Ada apa kamu ke sini? Kamu itu bau dan tidak diundang”. Kemudian penjaga tarub mendorongnya hingga terjatuh. Merasa diperlakukan seperti itu, pulanglah anak itu ke rumahnya dan langsung memberitahukan apa yang dia alami. Dengan sedih dan sabar mak miskin menyuruh kembali anaknya pergi. Pergilah anak itu untuk kedua kalinya. Sesampainya di depan tarub, kembali dia di usir bahkan diperlakukan lebih kasar dari sebelumnya. Kemudian anak mak miskin kembali lagi ke rumah dan memberitahukan kejadian tersebut kepada ibunya.

Hati mak miskin semakin sedih, namun demi menyenangkan anaknya mak miskin masih menahan kesedihannya. ”Coba kamu pergi lagi dan sebelum pergi kamu harus mandi sampai bersih. Mungkin saja badanmu masih bau, sehingga orang tidak mau menerimamu hadir di sana”. Tanpa berpikir panjang, anak mak miskin langsung menuruti perintah ibunya. Setelah mandi si anak langsung pergi untuk ketiga kalinya. Akan tetapi masih juga diusir penjaga tarub. Sampai anak itu dihajar agar jera dan tidak datang lagi. Dengan hati sedih ia kembali lagi ke rumahnya dan mengadu kepada ibunya. Mendengar cerita anaknya, hati mak miskin menjadi geram, maka timbullah niat untuk memberi pelajaran kepada orang-orang diselamatan tersebut. Dengan kemarahan mendalam dia berucap, ”Ooohh, begitu caranye orang dengan kame, kame juge bise berbuat jahat dengan orang”. ”Kalau begitu, kamu dandani kucing kite, pakaikan baju sehingga menjadi kucing yang benar-benar bagus. Kemudian bawa kucing tersebut kehajatan orang kaya itu” kata mak miskin kepada anaknya.

Kena kutuk gara-gara menertawakan kucing

Setelah beberapa waktu berselang, selesailah mereka mendandani kucing layaknya manusia, dipakaikan baju, dipolesi bedak, dan pemerah bibir tebal. Kemudian mereka pergi ke tempat hajatan sambil membawa kucingnya. Sampai di tempat acara, kucing yang sudah didandan tadi dilemparkan ke dalam tarub tempat orang makan minum. Melihat kucing aneh dan lucu tersebut, semua orang di tarub tertawa sekeras-kerasnya. Kucing itu pun berlari kebingungan tidak terarah. Orang mengira kucing itu sedang menari dan semakin besarlah ketawa orang-orang di situ. Tidak lama berselang, tiba-tiba petir menyambar dan seketika itu pula tarub berubah menjadi batu karena kelakuan mereka menertawakan kucing dan sombong terhadap mak miskin.

Mak miskini dan anaknya hanya menyaksikan kejadian itu dari kejauhan, bersembunyi dibalik rumpun bambu. Mereka tau, kutuk telah turun dan menimpa warga kampung. Begitulah azab orang yang berperangai buruk terhadap tetangganya. Bitulah kutuk yang diterima warga kampung karena kesombongannya. Tarub berubah menjadi batu dan orang-orang mati tertimpa batu tarub. Akhirnya Orang-orang menyebut batu tersebut dengan batu betarub.

Sampai sekarang cerita ini masih diceritakan secara turun temurun kepada anak-anak kampung Daup, Kecamatan Galing, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Cerita rakyat borneo ini menjadi pelajaran agar selalu peduli kepada tetangga, mau hidup saling membantu tanpa memandang perbedaan, dan tidak bersikap sombong terhadap siapa saja. Karena semua yang dimiliki hanyalah titipan dan manusia akan kembali kepada ketiadaan dan kemiskinan ketika mati nanti. Yang di bawa hanya amal perbuatan menghadap Tuhannya.
Sumber cerita M. Alwi dan diceritakan kembali dengan versi planet borneo.

Bagikan

Jangan lewatkan

Kisah Orang Kampung Jadi Batu Gara-gara Menertawakan Kucing
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.