Media informasi seni budaya Kalimantan Barat

Kepak Burung Enggang Kalimantan Tidak Perkasa Lagi

Burung Enggang Borneo

Burung Enggang Borneo adalah burung perkasa perkasa jenis rangkong sebagai lambang penguasa dunia atas dalam masyarakat Dayak pulau borneo. Burung Enggang Kalimantan ini merupakan jenis rangkong terbesar dari 14 spesies yang terdapat di Indoensia, baik ukuran paruh, kepala, tanduk yang menutupi bagian dahinya, termasuk ukuran badannya. Burung Enggang Gading Kalimantan pada usia muda mempunyai paruh dan mahkota berwarna putih. Semakin tua, paruh dan mahkotanya berubah menjadi warna oranye cerah kemerahan. Hal ini karena burung enggang borneo sering menggesekkan paruh pada kelenjar penghasil warna oranye kemerahan yang terdapat dibawah ekornya. Burung enggang menyukai daun Ara sebagai makanan favoritnya, tapi tidak dia juga memakan serangga dan binatang kecil lainnya.

Burung Enggang merupakan maskot provinsi Kalimantan dan termasuk burung yang dilindungi oleh undang-undang karena populasinya semakin sedikit. Namun yang menjadi maskot adalah jenis Burung Enggang yang tidak mempunyai tanduk di bagian kepalanya.



Perilaku Burung Enggang Borneo

Burung enggang borneo mempunyai kebiasaan hidup berpasangan dan keunikan hidup burung enggang ini dapat dilihat pada cara enggang betina bertelur. Sebelum enggang betina bertelur, sekitar 10 hari sebelumnya, burung enggang jantan akan membuat lubang pada batang pohon tinggi. Selama masa mengerami, enggang betina borneo menutup lubang dengan dedaunan dan lumpur dengan lubang kecil sebagai jendelanya. Kemudian burung jantan memberi makan burung betinanya melalui sebuah lubang kecil selama masa mengeram. Cara transfer makanan ini berlangsung sampai telur menetas dan anak mereka dianggap dapat sedikit mandiri. Ini lah yang dicontoh orang Dayak Kalimantan untuk hidup saling mencintai pasangan hidupnya dan mengasuh anak mereka hingga menjadi seorang dayak sebenarnya. Enggang borneo termasuk burung yang setia, karena mereka hanya kawin satu kali seumur hidupnya. Namun sekarang gagah suara enggang itu sunyi terbingkai kenyataan dimanan rumahnya sudah menjadi lahan perkebunan dengan dalih pembangunan.



Burung Enggang Borneo dan Masyarakat Dayak Kalimantan

Kehidupan burung enggang kalimantan selalu identik dengan penggambaran masyarakat dayak dan dihubungkan dengan tujun hidup luhur berdasarkan adat dayak. Burung enggang dianggap sebagai alam atas dihutan kalimantan. Enggang selalu identik dengan kepahlawanan dalam menjalani kehidupan, karena enggang selalu mengutamakan kehidupan berpasangan secara mandiri dan sanggup mati dalam mempertahankan keutuhan keluarga mereka. Disampaing itu burung enggang gading kalimantan juga burung pemberani, karena mereka tidak pernah takut bertarung dengan hewan jenis apapun. Makanya tidak heran ujung kepala mandau dayak kalimantan bentuknya menyerupai paruh burung enggang gading kalimantan agar bisa mendapat keberanian seperti burung enggang borneo. Sekarang gagah kepak enggang tidak terderngar lagi, enggang hanya terdiam ketika hutan sebagai rumah mereka diperkosa keangkuhan manusia.
Umumnya burung ini dianggap sakral dan tidak diperbolehkan untuk diburu apalagi dimakan. Bila ada burung enggang yang ditemukan mati, karena umur tua, atau kalah dalam perkelahian maka bagian kepalanya diambil lau dibuat hiasan kepala yang kebanyak dipasang pada topi masyarakat Dayak. Kepala burung enggang yang sudah tidak adalagi kulitnya akan mengeras seperti tulang tipis dapat bertahan lama. Namun satu hal harus disadari, paruh enggang gading kalimantan telah menjadi prasasti diambang kepunahan mereka.


Enggangku Sayang Enggangku Malang

Sekarang burung enggang gading kalimantan habitatnya tinggal sedikit. Berkurangnya populasi elang borneo ini dikarenakan kerusakan hutan terus-menerus terjadi, penyebabnya penebangan hutan untuk illegal logging maupun pengalih-fungsian lahan menjadi perkebunan kelapa sawit. Nasib burung enggang ini sekarang sama seperti nasib suku Dayak di pulau borneo yang semakin terpinggirkan ditanahnya sendiri. Selain itu kondisi kerusakan hutan diperburuk karena adanya perburuan burung enggang borneo oleh dilakukan masyarakat sekitar. Hal ini karena harga kepala burung enggang yang mahal sekitar 2 sampai 3 juta rupiah, sehingga banyak warga memburu burung tersebut. Termasuk juga pemburu dari luar yang masuk ke hutan kalimantan secara sembunyi-sembuynyi. Kini kepak enggang perkasa jarang terdengar lagi. Semoga tidak meninggalkan cerita sedih untuk anak cucu kita.