Media informasi seni budaya Kalimantan Barat

Tato: Tradisi Rajah Tubuh Manusia Dayak

Rajah Tubuh Manusia Dayak

Rajah tubuh orang dayak adalah membuat gambar pada bagian tubuh tertentu sesuai adat yang berlaku. Rajah tubuh manusia Dayak ini sama halnya tato yang banyak kita lihat menghias tubuh manusia. Namun Tatto dalam masyarakat dayak mempunyai aturan tertentu dan sebagai lambang tertentu bagi perjalanan kehidupan. Tato dalam adat masyarakat Dayak merupakan bagian dari tradisi, religi, status sosial. Namun pada sisi lainnya dapat dianggap sebagai bentuk penghargaan suku terhadap kemampuan seseorang. Karena itu, tato bagi masyarakat Dayak tidak bisa dibuat sembarangan. Artinya dia baru bisa dibuatkan tato sesuai dengan pencapaian sesorang dalam kehidupannya.

Ada aturan-aturan tertentu dalam pembuatan tato atau parung, baik pilihan gambarnya, struktur sosial orangnya, maupun bagian tubuh mana untuk penempatan tato tersebut. Meski demikian, tato dalam masyarakat mempunyai makna sebagai perlambang pencapaian atau tingkatan hidup. Ia merupakan identitas sakral yang disandang seseorang.

Makna Tato dalam Bingkai Tradisi

Tradisi rajah tubuh atau tato tidak dimiliki oleh semua suku atau sub suku Dayak. Selain itu mereka memiliki aturan yang berbeda dalam pembuatan tato. Misalnya rajah tubuh yang diberikan kepada kaum bangsawan atau ketua adat biasanya lebih halus dan lebih mendetail. Pembuatannya juga kadang ditentukan oleh aturan adat sampai pada mempersiapkan peratan tato yang akan digunakan. Hal inii karena, tato bagi masyarakat Dayak dianggap sakral, dan pembuatannya pun memerlukan persiapan yang terkait dengan aturan adat.

Bagi suku Dayak tertentu tato di sekitar jari tangan menunjukkan orang tersebut suka menolong seperti ahli pengobatan. Semakin banyak tato di tangannya, menunjukkan orang itu semakin banyak menolong dan semakin ahli dalam pengobatan. Sementara kalau tato disekitaran jari tersebut dipakai oleh wanita, sebagian pengamat budaya mengatakan bahwa ia keturunan bangsawan.

Bagi masyarakat Dayak Kenyah di Kalimantan Timur dan Dayak Kayan di Kalimantan Barat, Tato lebih dimaknai sebagai lambang perjalanan. Namun tidak semua motif tato menggambarkan pengembaraan tersebut. Kebanyakan diberikan pada para petualang berdasarkan pencapaian banyaknya tempat yang dijalani. Ada pula beberapa bagian tato tersebut menandakan pencapaian seseorang dalam mengembang kampung atau seni budaya yang mereka miliki. Artinya dia sudah berjasa untuk kehidupan suku dan kampungnya.
Semakin panjang perjalanan atau semakin berjasa orang tersebut, maka tato itu akan terus bertambah sesuai dengan panjangnya pencapaian dalam hidupnya.
Bagi sebagian masyarakat Dayak Iban, pemberian tato kadang pemberian tato dikaitkan dengan perjuangan seseorang untuk mempertahankan suku dan wilayah mereka. Pada peperangan atau perkelahian yang berakhir dengan Ngayau, biasanya sipemenang dianugerahi semacam pangkat dengan tato. Jadi semakin banyak ia mengayau, maka semakin banyak pula tato yang dirajah ditubuhnya. Tato untuk sang pemberani di medan perang ini, biasanya ditempatkan di pundak kanan. Namun pada subsuku lainnya, ditempatkan di lengan kiri jika keberaniannya “biasa”, dan di lengan kanan jika keberanian dan keperkasaannya di medan pertempuran dianggap "luar biasa". Ini juga tergantung banyaknya keberhasilan mengayau musuh dimedan perang.
“Pemberian tato yang dikaitkan dengan mengayau ini, dulunya sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan suku kepada orang-orang yang perkasa dan banyak berjasa,” tutur Simon Devung, seorang ahli Dayak dari Central for Social Forestry (CSF) Universitas Mulawarman Samarinda.

Tato Pada Kehidupan Perempuan Dayak

Tato atau parung tidak hanya untuk kaum laki-laki, tetapi juga kaum perempuan Dayak. Untuk laki-laki, tato bisa dibuat di bagian mana pun pada tubuhnya, sedangkan pada perempuan biasanya hanya pada kaki dan tangan. Jika pada laki-laki pemberian tato dikaitkan dengan penghargaan atau penghormatan, pada perempuan pembuatan tato lebih bermotif religius.
“Pembuatan tato pada tangan dan kaki dipercaya bisa terhindar dari pengaruh roh-roh jahat dan selalu berada dalam lindungan Yang Maha Kuasa,” ujar Yacobus Bayau Lung.
Pembuatan tato juga terkait dengan harga diri perempuan, sehingga dikenal istilah tedak kayaan, yang berarti perempuan tak bertato dianggap lebih rendah derajatnya dibanding dengan yang bertato. Meski demikian, pandangan seperti ini hanya berlaku di sebagian kecil subsuku Dayak tertentu.

Pada suku Dayak Kayan, ada tiga macam tato yang biasanya di sandang perempuan, antara lain tedak kassa, yakni meliputi seluruh kaki dan dipakai setelah dewasa; tedak usuu, tato yang dibuat pada seluruh tangan; dan tedak hapii pada seluruh paha.
Pembuatan tato pada perempuan suku Kenyah biasanya dimulai pada umur 16 tahun atau setelah haid pertama. Pembuatan tato ini dilakukan dengan upacara adat di sebuah rumah khusus. Selama pembuatan tato, semua pria tidak boleh keluar rumah. Selain itu seluruh keluarga juga diwajibkan menjalani berbagai pantangan untuk menghindari bencana bagi wanita yang sedang ditato maupun keluarganya.
Motif tato bagi perempuan lebih terbatas seperti gambar paku hitam yang berada di sekitar ruas jari disebut song irang atau tunas bambu. Ada pun yang melintang di belakang buku jari disebut ikor. Tato di pergelangan tangan bergambar wajah macan disebut silong lejau.

Ada pula tato yang dibuat di bagian paha. Bagi perempuan Dayak memiliki tato di bagian paha status sosialnya sangat tinggi dan biasanya dilengkapi gelang di bagian bawah betis. Motif tato di bagian paha biasanya juga menyerupai silong lejau. Perbedaannya dengan tato di tangan, ada garis melintang pada betis yang dinamakan nang klinge.

Tato sangat jarang ditemukan di bagian lutut. Meski demikian, ada juga tato di bagian lutut pada lelaki dan perempuan yang biasanya dibuat pada bagian akhir pembuatan tato di badan. Tato yang dibuat di atas lutut dan melingkar hingga ke betis menyerupai ular, sebenarnya anjing jadi-jadian atau disebut tuang buvong asu.



Tato dalam bingkai globalisasi

Baik tato pada lelaki maupun perempuan, secara tradisional dibuat menggunakan duri buah jeruk yang panjang dan lambat-laun kemudian menggunakan beberapa buah jarum sekaligus. Yang tidak berubah adalah bahan pembuatan tato yang biasanya menggunakan jelaga dari periuk yang berwarna hitam.
“Karena itu, tato yang dibuat warna-warni, ada hijau, kuning dan merah, pastilah bukan tato tradisional yang mengandung makna filosofis yang tinggi,” ucap Yacobus Bayau Lung.
Tato warna-warni yang dibuat kalangan pemuda kini, hanyalah tato hiasan yang tidak memiliki makna apa-apa. Gambar dan penempatan dilakukan sembarangan dan asal-asalan. Tato seperti itu sama sekali tidak memiliki nilai religius dan penghargaan, tetapi cuma sekadar untuk keindahan. Warna tato motif Dayak asli memiliki sejenis warna yaitu hitam agak kebiruan. Tato yang memiliki warna-warni yang mencolok sebenarnya tato masa kini yang hanya menampilkan sisi estetika saja namun bukan ciri khas tato Dayak sesungguhnya.

Tato tradisi Dayak kini sudah bergeser menjadi seni rajah tubuh yang tidak terbatas pada orang, tempat dan waktu. Pergeseran ini kebanyakan mengambil karena kebutuhan untuk keindahan dan menyatakan bahwa mereka orang Dayak. Motof yang digambar cenderung dimodifiksi atau digambar motif baru. Namun terlepas dari persepsi negatif bahwa orang bertato adalah orang jahat, jelas tato pada awalnya merupakan rangkai tradisi yang mempunyai makna khusus. Sementara tato modern itu merupakan sebuah perkembangan kreatifis seniman untuk lebih memperkaya nilai estetis dan untuk terus menjaga tradisi yang sampai sekarang masih dijalankan. Jadi jangan beranggapan bahwa tato itu buruk dan cenderung tidak menghargai manusianya.



Sumber foto Hendra Folk Tattoo Space
Ditulis ulang dari sumber The Lounge

Advertiser