Media informasi seni budaya Kalimantan Barat

Legenda Tampun Juah

Tampun Juah

Tampun Juah adalah sebuah wilayah yang subur di hulu sungai Sekayam kabupaten Sanggau Kapuas, tepatnya di hulu kampung Segomun, Kecamatan Noyan. Di masa lalu masyarakat Mualang ini hidup dan bergabung dengan kelompok serumpun Iban lainnya dan masa itu mereka tergabung sebagai masyarakat Pangau Banyau kemudian kesemuanya itu disebut Urang Nagari Pangau atau Orang Menua.

Tampun Juah merupakan tempat pertemuan dan gabungan bangsa Dayak dalam rumpun Ibanic group. Sebelum di Tampun Juah masyarakat Pangau Banyau hidup di daerah bukit kujau’ dan bukit Ayau, disekitaran Kapuas Hulu, kemudian pindah ke Air berurung, Balai Bidai, Tinting Lalang kuning dan Tampun Juah. Di sana mereka hidup dan mencapai zaman keemasan, dalam tiga puluh buah Rumah Panjai (rumah panggung yang panjang) dan tiga puluh buah pintu utama dengan kehidupan aman dan damai.

Tampun Juah berasal dari kata Tampun dan Juah. Nama ini terkait dengan peristiwa bersejarah yang merupakan peringatan akhir terhadap suatu larangan (mali). Tampun sendiri adalah suatu kegiatan pelaksanaan Eksekusi terhadap dua orang pelanggar adat karena kawin mali (perkawinan terlarang) dengan cara memasung terlentang dan satunya ditelungkupkan menjadi satu pada pasangan yang terlentang tersebut, kemudian dari punggung yang terlungkup di hujamkan bambu runcing, kemudian keduanya dihanyutkan di sungai.
Kesalahan tersebut dikarenakan keduanya terlibat dalam perkawian terlarang dengan sepupu sekali (mandal). Laki-laki bernama Juah dan perempuan bernama Lemay. Eksekusi dilakukan oleh seorang yang bernama lujun (algojo) pada Ketemenggungan Guntur bedendam Lam Sepagi/Jempa. Akhirnya tempat tersebut dinamakan Tampun Juah.

Penggolongan Masyarakat Tampun Juah

Kehidupan di Tampun Juah terbagi dalam tiga Statifikasi atau penggolongan masyarakat, yakni:
  1. Bangsa Masuka atau Suka (kaum kaya atau purih raja), seseorang yang hidupnya berkecukupan atau kaya dan termasuk kerabat orang penting (purih Raja).
  2. Bangsa Meluar (kaum bebas atau masyarakat biasa), seorang yang hidupnya menengah kebawah tetapi mempunyai pekerjaan dan kehidupan sendiri tanpa majikan. Artinya dia mempunyai pekerjaan, tanah, rumah, dan ,ladang sendiri untuk kehidupan keluarga mereka.
  3. Bangsa Melawang (kaum Miskin/masyarakat biasa), kelompok orang yang hidupnya miskin dan terikat kontrak kerja, untuk membayar segala hutangnya sampai lunas dan tak mempunyai kewajiban hutang lainnya. Namun sebagian berpendapat bahwa golongan ini adalah golongan ulun atau budak. Dia selamanya akan menjadi budak (bahkan ada yang beranggapan sampai keturunannya), kecuali majikan memerdekakan dia atau nasibnya berubah, diangkat menjadi kerabat majikan karena perkawinan, diangkat anak, dan lain sebagainya.

Selain membagi tiga tingkat penggolongan masyarakatnya, penduduk Tampun Juah juga mengatur kehidupan mereka dengan membentuk pemimpin – pemimpin di setiap rumah panjang / kampung yang disebut Timanggung, tugasnya mengatur kehidupan kearah yang teratur dan lebih baik. Selain itu, kehidupan Tampun juah juga erat hubungannya dengan kehidupan ritual dan keagamaan. Mereka mempercayai keturunan mereka berasal dari sepasang suami istri yang bernama Ambun Manurun (laki-laki) dan Pukat Mengawang (perempuan). Kedua orang tersebut merupakan simbol terciptanya manusia pertama ke dunia. Ambun menurun yaitu embun yang turun ke bumi, symbol seorang laki –laki dan pukat mengawan adalah celah-celah dari jala yang membentang sebagai simbol wanita. Embun tersebut menerobos atau menembus celah pukat sebagai simbol hubungan intim antara pria dan wanita. Pasangan suami istri tersebut mempunyai 7 anak laki –laki dan 3 anak perempuan:
  1. Puyang Gana (Roh Bumi / Penguasa tanah, meninggal sewaktu lahir). Puyang Gana lahir tidak seperti kelahiran manusia normal, ia mempunyai kaki satu, tangan satu dan lahir dalam keadaan meninggal. Karena mempunyai tubuh yang tidak lazim atau jelek, ia diberi nama Gana, ia di kubur dibawah tangga. Ketika ada pembagian warisan ia datang dalam rupa yang menyeramkan (hantu) dan meminta bagiannya hingga karna suatu alasan maka ia mengklaim dirinya sebagai penguasa seluruh tanah dan hutan.( Baca, tentang kerajaan Sintang pada buku Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat hal.184 – 188 ).
  2. Puyang Belawan lahir secara normal seperti manusia biasa
  3. Dara Genuk (perempuan) lahir kerdil, mempunyai tangan dan kaki yang pendek, oleh sebab itu di sebut Dara genuk.
  4. Bejid Manai lahir dan mempunyai sedikit kelainan pada bagian tubuhnya, yakni kemaluannya besar. Oleh sebab itulah ia disebut Bejid Manai.
  5. Belang patung  lahir dan setiap ruas tulangnya belang
  6. Belang pinggang lahir dan mempunyai pinggang yang belang
  7. Belang bau lahir dalam keadaan belang dan tubuhnya bau
  8. Dara kanta' (perempuan) lahir normal tetapi mempunyai Cala (tanda hitam) dipipinya
  9. Putong Kempat (perempuan) Putong Kempat lahir dalam keadaan normal, mempunyai tubuh yang indah dan kecantikannya luar biasa 
  10. Bui Nasi (awal mula adanya nasi) lahir lansung bisa bicara dan merengek minta nasi,  inilah awal mula orang Pangau Banyau makan Nasi. (Baca, tentang kerajaan Sintang pada buku Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat hal.185). Menyebabkan ayah dan Ibunya memohon kepada Petara (sebutan Tuhan) untuk mengubahnya menjadi bibit padi.

Pada masa itu kehidupan di Tampun Juah diatur sesuai dengan adat istiadat untuk menjadi bangsa yang besar, kuat dan makmur. Aturan adat berlaku untuk semua masyarakat tampun juah dan masyarakat diluarnya. Banyak kelompok masyarakat lain yang bergabung mencari kehidupan yang lebih baik di sana. Di masa itu kehidupan manusia dan para Dewa serta mahluk halus, masih terkumpul dan saling berbicara satu sama lain layaknya manusia biasa. Hubungan mereka sangat akrab dan harmonis antara masyarakat Tampun Juah dengan Orang Buah Kana (penduduk kayangan). Hal inilah yang memberikan berkeah tersendiri bagi kejayaan dan kemakmuran hidup di Tampun Juah.

Peperangan Perebutan Kekuasaan

  1. Kejayaan dan kemakmuran Tampun Juah didengar oleh kerajaan Sukadana (di Kabupaten Ketapang). Raja Sukadana pada waktu itu berkeinginan menguasai Tampun Juah yang akhirnya terjadilah penyerangan yang dilakukan oleh kerajaan Sukadana. Kerajaan Sukadana saat itu mempunyai bala tentara sakti dari suku Dayak Biaju' (Miajuk) dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Mereka mengadakan ekspansi militer pertama dari daerah Labai lawai (sekarang Tamabak Rawang) Sukadana, masuk dan menyusuri sungai kapuas sampai ke teluk air daerah batu ampar menuju Tayan Sanggau, dan masuk sungai Sekayam sampai ke hulunya. Penyerangan pertama ini tidak berhasil dan dinamakan dengan Perang Sumpit, karena pada perang ini menggunakan sumpit yang pelurunya diberi ipuh (racun dari pohon ipuh).
  2. Serangan kedua pihak musuh yang kalah menyerang tampun juah dengan mengajak bangsa setan. Namun dengan bantuan orang bunian (orang kebenaran) dan orang kayangan, akhirnya masyarakat Pangau Bayau dapat mengalahkan musuh. Beberapa pasukan dari Tampun Juah yang gugur disemayamkan dan diberi penghargaan kepada keluarganya.
  3. Serangan ketiga pihak musuh yang kalah menyerang dengan menggunakan bangsa binatang. Ekspansi ketiga terhadap Tampun Juah inipun gagal. Beberapa sumber mangatakan bahwa para pangalima (sebutan panglima perang Dayak) dan pasukannya berperang menggunakan api, sehingga pasukan binatang dari kerajaan Sukadana takut dan dapat dipukul mundur.
  4. Serangan keempat dilakukan dengan berbagai jamur beracun diladang dan sekitar pemukiman masyarakat Tampun Juah. Hal ini menyebabkan banyak masyarakat Tampun Juah yang keracunan. Walau keracunan ini dapat disembuhkan, namun berdampak pada perubahan intonasi bahasa, logat dan pengucapan pada bahasa keseharian. 
  5. Pihak musuh memandang hal ini merupakan suatu celah kelemahan dan menjadikannya sebagai jalan masuk untuk mengalahkan Tampun Juah. Pihak musuh mengirim bangsa setan untuk mengotori tempat-tampat meraka. Bahkan kotoran setan tersebut sampai ada di tempat makan, dalam tempayan,  termasuk juga tempat ritual mereka. Kejadian ini berlangsung dalam jangka waktu lama. Banyak masyarakat terkena penyakit lalu mati. Orang kayangan tidak mau tempat yang kotor dan akhirnya kembali ke tempatnya masing-masing, termasuk juga orang-orang bunian. 



Menyikapi permasalahan itu maka para timanggung berkumpul untuk mengadakan Pekat Banyau (musyawarah). Dalam musyawarah tersebut diputuskan untuk meninggalkan Tampun Juah secara berangsur-angsur. Proses keberangkatan dipimpin oleh masing-masing timanggung dan yang berangkat dahulu, harus membuat lujok (tunggul kayu) atau tanda pada setiap tempat yang dijalani kelompoknya. Hal ini sebagai tanda jejak agar dapat diikuti oleh kelompok dibelakangnya dengan perjanjian:
Jika kelak menemukan tempat yang subur, enak dan cocok, mereka (orang-orang Tampun Juah) akan berkumpul lagi dan membina kehidupan seperti masa di Tampun Juah.
Sampai di sini dulu tulisan saya mengenai Legenda Tampun Juah. Insya Allah akan dilanjutkan dengan cerita perjalanan masyarakat Tampun Juah rumpun Dayak Ibanic Grup mencari tempat dan penghidupan baru. Cerita selanjutnya akan berhubungan dengan asal muasal sub suku Dayak Mualang. Terima kasih sudah membaca dan salam sahabat blogger.



Sumber foto Note and History
Sumber foto Wikipedia
Referensi: wikipedia

Advertiser