Media informasi seni budaya Kalimantan Barat

Kepada Sahabatku yang Bernama Saudara

Wahai kamu... iya kamu!!!. tadi saya sempat singgah diantara orang-orang yang berteduh dan mulai tersenyum ketika aku lihat sahabatku yang bernama saudara. Sekarang dia berteduh walau tidak panas. Yah... hari ini tidak panas, tapi dia tetap berteduh diantara orang-orang yang merasa benar tapi kebingungan. Aku hanya menyapa dengan tanya, kenapa?

Ada satu retorika tersembunyi yang dibalut dengan senyum dan pengorbanan. Dibalut diam dan sengaja dipertontonkan untuk suatu alasan. Mereka berpesta dengan dalih untuk rakyat dan budaya. Sementara dibalik panggung mereka menyusun pencitraan terselubung agar masyarakat menganggap mereka berjasa. Yah, telah berjasa untuk jasa mereka yang harus diperhitungkan berjasa. Sementara masyarakat tanpa sadar meng-elu-kan mereka layaknya nabi baru, raja imajiner yang lahir dijaman modern, manusia pintar yang referensinya banyak disebutkan dalam literatur agama dan buku-buku para ahli.

Wahai saudara... yah kamu sahabatku yang bernama saudara. Kamu tidak sadar kalau itu adalah permufakatan seribu janji yang sampai kini absurd kita jabarkan dalam catatan kenyataan. Kita masih saja membeli kopi dan gula dengan cara berhutang di toko sebelah rumah kita. Kita masih saja menyekolahkan anak-anak kita ditempat tumbuhnya pemikiran feodal. Lalu kamu berucap... "inilah perjuangan, inilah kebenaran". Itu propaganda mereka wahai sahabataku. Masyarakat dipaksa menyanjung mereka. Tanpa sadar, masyarakat dipaksa memgeluarkan fatwa bahwa mereka pahlawan, hingga masyarakat teramat peduli dengan jasa mereka. Yah, jasa yang sebenarnya tidak bisa diperhitungkan dalam kehidupan kita.

Ingatlah... dulu mereka adalah kita. Bedanya mereka mempunyai cita-cita dan itu mereka perjuangkan dengan menghalalkan segala cara. Sementara kita tidak mampu, karena miskin dan bodoh. Bedanya kamu mengeluh karena keterpurukan, sementara aku masih saja sibuk dengan pemikiran sederhanaku yang dianggap tidak berguna. Sekarang aku sadari satu hal, hampir saja aku tertipu untuk memuliakan mereka sebagai pemimpin. Hampir saja, yah hampir saja. Namun aku adalah aku yang masih berjuang sendiri. Masih saja aku tersenyum dengan propaganda pencitraan terselubung itu. Tapi satu hal yang membedakan aku dengan kamu, walaupun dianggap bodoh… yang jelas aku tidak tertipu.

Disini kita sama-sama berteduh. Kamu berteduh dengan mereka karena kepanasan dan mencari celah dingin. Sementara aku berteduh karena hujan. Kita berteduh pada halte yang sama, pada jam yang sama, dan pada tempat yang sama. Bedanya kamu memandang aku sebagai pesakitan otak yang harus disembuhkan. Sementara aku masih memanggilmu sahabat yang bernama saudara. Itu saja, biarkan begitu, dan biarlah berjalan seperti biasanya.
Semoga pada persinggahan selanjutnya, aku, kamu, dan mereka bisa sama-sama merasa sebagai manusia. Semoga bisa menyatu dalam liarnya imaji kehidupan kita yang berbeda.

Pontianak, 31 Desember 2017
dari sahabat yang bernama saudara

Advertiser