Saturday, December 30, 2017

Eksotika Kain Tenun Dayak Iban

Tenun Dayak Iban Sebagai Refleksi Budaya

Kain Tenun Dayak Iban di Rumah Betang Ensaid Panjang merupakan sebuah kekayaan seni budaya yang ada di Kalimantan Barat. Kain tenun Dayak tersebut merupakan refleksi kehidupan masyarakat dan syarat akan makna. Dia adalah abstraksi perjalanan manusia dan dianggap sebagai suatu yang mempunyai nilai luhur, sakral dan religius. Dia juga dapat dikatakan sebagai lambang keberadaan masyarakat Iban dalam menjalani dan menata kehidupan sesuai adat dan tradisi yang berlaku.

Eksotika Kain Tenun Dayak Iban

Kain Tenun Dayak Iban di Rumah Betang Ensaid Panjang adalah perwujudan hubungan vertikal terhadap alam magis seperti dewa-dewa, roh para leluhur, roh halus yang dianggap baik dan melindungi, dan beberapa penunggu alam yang dipercaya mempunyai kekuatan supranatural dan dapat memberi pengaruh dalam kehidupan mereka. Selain itu Tenun Dayak Iban juga merupakan literasi hubungan horizontal antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan interaksi manusia untuk menjaga dan melestarikan adat budaya mereka. Sebuah saduran sejarah panjang dalam perjalanan yang bercerita tentang keberadaan Dayak Iban di Rumah Betang Ensaid Panjang. Sekarang mari kita kenali lebih dekat kain tenun Dayak Iban di Ensaid Panjang Kalimantan Barat.

Gambar didapat melalui ilham dan mimpi

Gambar pada kain tenun Dayak Iban kebanyak merupakan refleksi kehidupan yang didapat melalui ilham atau mimpi seorang gadis. Ia lahir dari sebuah pengharapan dan pertanda yang mengiring hidupnya kearah cita-cita mulia. Mimpi tersebut dapat berupa dewa, manusia, hewan, tumbuhan, bahkan hantu, yang kemudian dituangkan dalam gambar ataupun lukisan di kain-kain tenun yang dibuat para perempuan Dayak yang mendiami rumah betang di wilayah kabupaten di Kalimantan Barat, termasuk juga masyarakat Dayak Iban yang mendiami rumah Betang Ensaid Panjang.
Seorang seniman dan pengamat budaya Kalimantan Barat, Yohanes Palaunsoeka mengatakan, "gambar di kain tenun, pada dasarnya merupakan suatu lukisan. Lukisan penggambaran dari mimpi atau ilham si penenun. "Jadi apa yang dia dapatkan dalam alam mimpi, dia tuangkan dalam bentuk tenunan." katanya.
Eksotika Kain Tenun Dayak Iban

Abstaksi Dunia Transenden

Gambar pada kain tenun Dayak Iban (termasuk masyarakat Iban di Rumah Betang Ensaid Panjang) adlaah abstraksi hubungan manusia dengan dunia transenden, baik itu secara horizontal maupun vertikal. Hubungan yang bersifat mistik religius inilah yang digambar dalam kain tenun Dayak Iban.
“Rata-rata gambar dalam tenunan adalah refleksi kehidupan manusia, tetap ada hubungannya dengan manusia, alam atas, dan alam bawah. Termasuk dengan alam sekitar seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan yang bermakna keseimbangan hidup antara manusia dengan alam. Dalam tenunan juga digambarkan tentang nasib, sampan sebagai penggambaran transportasi zaman dulu, pucuk rebung karena dalam kehidupan untuk sayur mayur makanan mereka. Namun jika dalam mimpi mereka (penenun) bertemu dengan buaya, atau ular, itulah yang digambarkan dalam abstraksi mereka, bentuk ular, buaya, bisa juga bentuk manusia." Katanya Yohanes Palaunsoeka.
Eksotika Kain Tenun Dayak Iban

Gambar motif dibuat berdasarkan tingkatan umur

Gambar atau lukisan kain tenun Dayak Iban dibuat berdasarkan tingkatan umur. Para gadis biasa belajar dari umur belasan tahun atau menjelang akil baligh (telah sampai usai masa dewasa). Mereka diajarkan membuat sesuatu untuk keperluan hidup, seperti pakaian atau bagaimana cara merias diri. Artinya mereka diajarkan membuat pakaian melalui tenun. Pola tenun yang paling sederhana yang diajarkan untuk anak gadis, rata-rata biasanya gambar pakis.
Ada beberapa gambar yang tidak boleh digambar oleh anak-anak atau remaja. Rata-rata yang boleh menggambar berbentuk binatang naga atau dewa adalah perempuan yang sudah cukup umur sekitar 40 atau 50 tahun ke atas. Hal ini karena dikhawatirkan bagi anak gadis jika membuat pola-pola gambar naga dan dewa, jika jiwa mereka belum kuat bisa terbawa dengan apa yang ada didalam gambar tersebut, sehingga menjadi gila, sakit, atau bahkan meninggal dunia. Sehingga motif manusia, ular, naga, ataupun buaya, biasanya hanya dibuat oleh penenun yang sudah cukup umur. Sedang gadis muda kebanyakan membuat gambar motif pakis, rebung, bendera, atau perahu," kata Yohanes Palaunsoeka.
Eksotika Kain Tenun Dayak Iban

Waktu pantang untuk membuat kain tenun

Kebiasaan pembuat kain tenun Dayak Iban di Rumah Betang Ensaid Panjang menenun mulai pukul 7 atau pukul 8 pagi sampai sekitar pukul 5 sore. Di sela-sela waktu menenun, para perempuan ini menyempatkan diri memasak untuk makan siang anak dan suami, istirahat melepas lelah, dan mandi. Kemudian melanjutkan menenun hingga sore hari.
Di sini ada larangan tidak boleh menenun saat matahari terbenam, pantang (dilarang) bagi warga rumah betang Ensaid Panjang. Kalau melanggar, kena hukum adat," kata Elisabet seorang penenun di Rumah Betang Ensaid Panjang.
Eksotika Kain Tenun Dayak Iban

Warisan turun temurun

Keahlian menenun diwariskan turun temurun. Biasanya mereka mendapatkan pelajaran menenun dari ibu atau saudara disekitar rumah betang. Mereka mempunyai bakat alamiah dikarenakan kebiasaan melihat, mencontoh, lalu menerapkan membuat kain tenun. Namun dalam pengerjaan awal biasanya mereka menerapkan motif sederhana lalu diajarkan tentang syarat, teknik, dan kelengkapan secara lahir batin untuk menguasai suatu tenunan. Hal ini terus belanjut sampai mereka benar-benar dianggap bisa, kemudian ditinggalkan untuk membuat kain tenun secara mandiri.

Eksotika Kain Tenun Dayak Iban

Kain tenun Dayak Iban yang tergerus zaman

Masuknya informasi membuat anak gadis sudah jarang membuat tenun. Mereka dianjurkan bersekolah yang jaraknya kcukup jauh dari Rumah Betang, sehingga memakan banyak waktu dan tenaga. Selain itu masyarakat Rumah Betang Ensaid Panjang juga memberi kesempatan anak-anak gadis mereka bermain dan mengenal alam sekitarnya, sehingga kegiatan menenun hanya dilakukan sewaktu libur.
Pengaruh dunia teknologi juga banyak berpengaruh pada pola pikir modern penerus Rumah Betang Ensaid Panajang. Mereka lebih memilih mencari informasi yang berkaitan dengan keningkatan kualitas hidup sesuai zaman, akhirnya beberapa budaya mereka tinggalkan, termasuk juga penerusan verbal terhadap Kain Tenun Dayak Iban. Inilah yang menyebabkan penenun muda sudah jarang didapati sekarang.
Eksotika Kain Tenun Dayak Iban

Semoga saja generasi muda sadar, bahwa kain tenun Dayak Iban adalah sebuah aset kekayaan budaya yang harus dilestarikan. Dia adalah salah satu tonggak keberadaan masyarakat pemiliknya. Bila suatu budaya itu hilang, maka separuh identitas Dayak Iban juga akan hilang. Sementara informasi dan modernitas seharus bisa mendukung perkembangan kain tenun itu sendir ke arah yang lebih maju. Kalau Kain Tenun Dayak Iban di Rumah Panjang Ensaid Panjang hilang, jangan salahkan siapa yang bertanggungjawab. Tapi lihatlah ke dalam lalu tertunduklah dalam perenungan. "Jangan tangisi tradisi bila ia telah mati".

All Foto by Sony Alkat

Bagikan

Jangan lewatkan

Eksotika Kain Tenun Dayak Iban
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.