Media informasi seni budaya Kalimantan Barat

Asal Usul Dayak Mualang

Dayak Mualang dan Penyebarannya

Cerita Dayak Mualang merupakan sambungan dari Legenda Tampun Juah. Untuk lebih memahami cerita asal usul Dayak Mualang, silahkan baca artikel sebelumnya disini.

Setelah selesai bepekat (musyawarah) orang Pungau Bayau di Tampun Juah, maka diputuskanlah siapa yang berangkat terlebih dahulu. Orang Buah Kana (Dewa Pujaan) kembali ke khayangan, selanjutnya kelompok yang berangkat adalah:
  1. Kelompok pertama adalah Dayak Batang Lupar (rumpun Iban). Mereka berangkat menyusuri sungai sai lalu tembus ke muara sungai ketungau sampai ke Batang Lupar Kapuas hulu. Sesampainya di Batang Lupar, kelompok ini kemudian terpecah dan membentuk kelompok-kelompok seperti Kantuk, Undup, Gaat, Saribas, Sebuyau, Sebaruk, Skrang, Balau dan lain-lain yang menyebar dan mencari tanah dan kehidupan baru.
  2. Kelompok kedua adalah Dayak Ketungau yang menyusuri aliran Sungai Sai, terus masuk sungai ketungau lalu menetap disana di sepanjang sungai ketungau dan membentuk kelompok-kelompok kecil diantaranya: Bugao, Banyur, Tabun dan lain-lain.
  3. Kelompok ketiga adalah kelompok Mualang. Kelompok ini adalah kelompok yang bertahan terakhir di Tampun Juah. Pada waktu itu kelompok ini bapantang (menjalankan pantang) karena ada yang melahirkan. Setelah sekian lama kemudian kelompok ini menyusul kelompok keduanya melalui Sungai Sai, sampai di muara sungai ketungau yang dipimpin Guyau Temenggung Budi. Dalam perjalanan ikut serta seorang pangalima gagah berani bernama Mualang.

Dalam perjalanan menyusuri sungai Ketungau, rombongan Guyau Temenggung Budi tersesat karena adanya banjir yang menyebabkan tanda (lujok) yang dibuat pendahulunya berubah arah di terpa arus. Mereka akhirnya menghentikan perjalanan dan dipemukiman baru itu pengawal rombongan (manok sabung) bernama Mualang meninggal dunia. Dia dikubur disebelah kanan mudik sungai Ketungau. Nama Mualang diabadikan dengan memberi nama anak sungai menjadi sungai Mualang dan rombongan Guyau temenggung budi mengabadikan nama kelompok yang dipimpinnya dengan nama Orang Mualang. Lambat laun penerus rombongan ini disebut dengan nama Dayak Mualang.

Pada suatu ketika disaat sedang berburu, orang Mualang menemukan pemburu lainnya yang mempunyai bahasa sama dengan rombongan orang Mualang. Namun pemburu tersebut bukan dari rombongan maupun komunitas mereka. Orang tersebut mengaku berasal dari Tanah Tabo. Berita ini kemudian disampaikan kepada Guyau temenggung Budi yang akhirnya membawa seluruh orang Mualang bergabung dengan masyarakat di Tanah Tabo. Lambat laun keturunan orang Mualang ini menyebar ke Sekadau, seluruh Belitang, dan sebagian ke Sepauk Kabupaten Sintang.
Penduduk di Tanah Tabo’ merupakan keturunan dari keseka’ Busong yang kawin dengan Dara Jantung anak Petara Seniba (Dewa di khayangan). Dara Jantung diturunkan ke bumi oleh Petara Seniba (ayahnya) menggunakan tali Tabo’ Tengang (akar kayu) Bekarong Betung (diselimuti bambu betung). Anak Keseka Busong dan Dara Jantung bernama Bujang Panjang yang kawin mali (terlarang) dengan Dayang Kaman Dara Remia (bibinya atau adik ibunya) di khayangan yang menyebabkan kakeknya (Petara Seniba) murka dan mengusir Bujang Panjang ke bumi tempat ayahnya (Keseka’ Busong). Anak hasil kawin mali mereka dipercaya menjadi berbagai macam hama padi dan menyebar kebumi.

Putong Kempat dan Aji Melayu

Sementara rombongan lainnya yang berangkat lebih dahulu dari rombongan Guyau Timanggong Budi (Anak- Anak Ambun Menurun dan Pukat Mengawang lainnya dari Tampun Juah) menyebar mengikuti kehidupan masing-masing dan ada yang membentuk kelompok serumpun lainnya. Salah satu anak dari Ambun Menurun dan Pukat Mengawang Putong Kempat, kawin dengan Aji Melayu berasal dari Semenanjung. Hal ini diperkuat dengan kubur dan bukti peninggalan lainnya di Sepauk Kabupaten Sintang. Berikut Urutan silsilah perkawinan Putong Kempat dengan Aji Melayu.
  1. Putong Kempat (Dayak Mualang dengan Aji Melayu di daerah Sepauk) Melahirkan anak bernama
  2. Dayang Lengkong yang kawin dengan Patih Selatong menurunkan
  3. Dayang Randung yang kawin dengan Adipati Selatung menurunkan
  4. Abang Panjang menurunkan
  5. Demong Karang menurunkan
  6. Demong Kara (Raja keenam kerajaan Sepauk) menurunkan
  7. Demang Minyak Raja Kedelapan kerajaan Sepauk menurunkan
  8. Demong Irawan bergelar Jubair I menurunkan
  9. Dara Juanti Raja kesembilan th.1385 menurunkan
  10. Dara Juanti kawin dengan Patih Logender dari Jawa dimasa Kerajaan Majapahit (hindu). Perkawinan Dara Juanti dengan Patih logende diiring dua belas orang membawa parinduk sebagai bukti hantaran. Kemudian kedua belas orang ini membentuk komunitas disekitar Bukit kelam dan menjadi Dayak Lebang Nado. Percampuran dari keturunan Dayak Mualang, Melayu hindu, dan Jawa hindu.



Kerajaan Sekadau

Rombongan Dayak Mualang yang menyebar ke Sekadau terpecah membentuk kelompok baru, yaitu Mualang Tanjung dan berbaur dengan kelompok Dayak Seberuang, Dayak Desa, Ketungau sesat dan sebagainya. Sebagian bercampur dengan rombongan kelompok Dara Nante yang dipimpin oleh Singa Patih Bardat dan Patih Bangi. Mereka tersesat ketika menyebar mencari daerah yang disebut Tampun Juah.

Rombongan Singa Patih Bardat bercampur dengan Dayak Mualang, menurunkan suku -suku kecil yakni Dayak Kematu’, Dayak Benawas, Dayak Mualang Sekadau di daerah Lawang Kuari (Lawang Kuari adalah Betang yang dikutuk melebur menjadi batu karena sebuah peristiwa). Sedangkan Rombongan yang dipimpin oleh Patih Bangi menyusuri hulu sungai ke daerah Belitang. Dayak Mualang di daerah Belitang inilah yang banyak menurunkan Raja Sekadau dan Raja Belitang.

Kerajaan Sekadau pernah diperintah berturut-turut oleh Keturunan Prabu Jaya dan keturunan Raja-raja Siak Bulun (Bahulun) dari sungai Keriau, Kabupaten Ketapang. Adapun Raja Sekadau pertama adalah pangeran Engkong, yang menpunyai tiga orang putra, yaitu Pangeran Agong, Pangeran Kadar, Pangeran Senarong. Setelah Pangeran Engkong (Raja Sekadau) wafat, dia digantikan oleh Pangeran Kadar, sedangkan Pangeran Senarong meneruskan keturunan Raja-raja Belitang. Sementara Pangeran Agong memilih mengasingkan diri beserta pengikutnya ke tempat yang kini disebut dengan Lawang Kuwari (Rumah Betang yang menghilang dan hingga kini tempat ini dianggap keramat).

Kerajaan Sekadau mulai memeluk agama Islam setelah Pangeran Kadar Wafat dan digantikan oleh anaknya yang bernama Pangeran Suma. Dayak Kematu yang merupakan gabungan dari pecahan rombongan Dara Nante dan Dayak Mualang di sekitar Sekadau, adalah Dayak pertama memeluk agama Islam di daerah Sekadau, selanjutnya berangsur-angsur diikuti beberapa suku Dayak lainnya. Perkembangan agama Islam di kerajaan Sekadau semakin pesat, maka pindahlah pusat kerajaan Sekadau ke Sungai Bara dan disitu didirikan sebuah Mesjid Besar.



Kerajaan Belitang

Cerita kerajaan Belitang diawali oleh seorang Dara Mualang yang bernama Dayang Imbok Benang keturunan Kesekak Busong. Pada suatu ketika Dayang Imbok Benang sedang berjalan-jalan di hutan, dan melihat seekor babi sangat besar. Karena terkejut dengan cepat ia menikam babi itu dengan keris pusaka kakeknya. Saking kuatnya tusukan itu, menyebabkan terlepasnya ganggang keris hingga mata keris dibawa lari babi yang terluka. Karena keris pusaka hilang, gadis itu takut pulang kerumah dan berniat mencari keris pusaka kakeknya sampai ke daerah hulu kapuas.

Dalam perjalanannya menyusuri hutan, ia ditemukan oleh Demong Rui, Raja dari Nanga Embaloh. Akhirnya gadis Mualang tersebut dijadikan istri oleh Demong Rui dan melahirkan dua orang anak, pertama bernama Kerandang Ari dan kedua bernama Abang Bari.

Suatu ketika keduanya pulang untuk mencari tanah kelahiran ibu mereka di daerah Belitang. Budak yang dibawa mereka meninggal dunia di sana, budak tersebut bernama Belitang. Dulunya sungai Belitang bernama sungai Perupuk. Akhirnya mereka mengganti nama sungai tersebut dengan sungai Belitang dan daerah sekitarnya disebut daerah Belitang.

Kerandang Ari menetap di Belitang bersama keturunan ibunya dan menjadi bagian dari masyarakat Mualang. Sedangkan adiknya Abang Bari mengikuti ayahnya meneruskan pemerintahan Raja-raja di Selimbau. Pada masa selanjutnya, keturunan Abang Bari ini akhirnya kembali ke kampung ibunya dan meneruskan sistem pemerintahan tradisional sebelumnya sampai melahirkan kerjaan di daerah Belitang.



Sumber utama Wikipedia
Referensi: Wikipedia
Sumber foto Wikimedia
Sumber foto Dayak of Borneo

Advertiser