Sunday, December 3, 2017

Legenda Bujang Beji dan Timanggong Marubai

Legenda Bujang Beji

Jaman dahulu di daerah Sintang, Kalimantan Barat, hiduplah dua orang pemimpin keturunan dewa yang konon kabarnya memiliki kesaktian tinggi. Kedua orang tersebut mempunyai sifat yang berbeda. Yang pertama bernama Sebeji atau dikenal dengan Bujang Beji. Ia memiliki sifat perusak, pendengki dan serakah. Beji tidak mau ada orang yang memiliki ilmu melebihi kesaktiannya. Dia juga terkadang kejam dan semena-mena, oleh karena itu kurang disukai masyarakat sekitar, hingga pengikutnya sedikit. Sementara keturunan dewa lainnya bernama Marubai. Sifatnya sangat baik, suka menolong, rendah hati 9Pokoknya berhati mulialah gan). Keduanya mempunyai mata pencaharian utama menangkap ikan, disamping berladang dan berkebun.

Legenda Bujang Beji dan Timanggong Marubai

Bujang Beji beserta pengikutnya menguasai sungai di Simpang Kapuas, sedangkan Temenggung Marubai menguasai sungai di Simpang Melawi. Ikan di sungai Simpang Melawi beraneka ragam jenis dan jumlahnya lebih banyak dibandingkan sungai di Simpang Kapuas. Tidak heran jika setiap hari Temenggung Marubai selalu mendapat hasil tangkapan yang lebih banyak dibandingkan dengan Bujang Beji.

Bujang Beji dan Timanggong Marubai

Temenggung Marubai menangkap ikan di sungai Simpang Melawi menggunakan bubu (perangkap ikan) besar dari batang bambu dan menutup sebagian arus sungai dengan batu-batu, sehingga dengan mudah ikan-ikan terperangkap masuk ke dalam bubunya. Ikan-ikan tersebut kemudian dipilihnya, hanya ikan besar saja yang diambil, sedangkan ikan-ikan yang masih kecil dilepaskannya kembali ke dalam sungai sampai ikan tersebut menjadi besar untuk ditangkap kembali.

Bujang Beji menangkap ikan di sungai di Simpang Kapuas dengan cara menuba (menyebar ramuan racun ikan). Pada awalnya, ikan yang diperoleh Bujang Beji dapat melebihi hasil tangkapan Temenggung Marubai, namun lambat laun ikan di simpang sungai kapuas semakain sedikit, karena tidak hanya ikan besar saja yang tertangkap, tetapi ikan kecil juga ikut mati. Alhasil tangkapan ikan Bujang Beji semakin hari semakin sedikit. Sementara Temenggung Marubai tetap memperoleh hasil tangkapan yang melimpah. Inilha yang membuat Bujang Beji semakin dengki dan iri hati kepada Temenggung Marubai.

Sejenak ia merenung mencari cara agar ikan-ikan yang ada di kawasan Sungai Melawi habis. Setelah beberapa lama berpikir, akhirnya Bujang Beji menemukan cara yang paling baik, yakni menutup aliran Sungai Melawi dengan batu besar di hulu Sungainya. Dengan demikian, Sungai Melawi akan terbendung dan ikan-ikan akan menetap di hulu sungai dan tidak bisa sampai ke muara atau simpang sungai Melawi.

Mengangkat Bukit Batu (Bukit Kelam)

Setelah memikirkan masak-masak, Bujang Beji pun memutuskan untuk mengangkat puncak Bukit Batu di Nanga Silat, Kabupaten Kapuas Hulu. Dengan kesaktiannya yang tinggi, ia pun memikul puncak Bukit Batu tersebut dengan cara mengikatnya pada tujuh lembar daun ilalang. Di tengah perjalanan menuju hulu Sungai Melawi, tiba-tiba Bujang Beji mendengar suara perempuan sedang menertawakannya. Rupanya, dewi-dewi di Kayangan telah mengawasi tingkah lakunya. Saat akan sampai di persimpangan Kapuas-Melawi, ia menoleh ke atas. Namun, belum sempat melihat wajah dewi-dewi yang sedang menertawakannya, tiba-tiba kakinya menginjak duri beracun.

legenda bujang beji

Seketika itu pula tujuh lembar daun ilalang yang digunakan untuk mengikat puncak bukit terputus. Akibatnya, puncak bukit batu terjatuh dan tenggelam di sebuah rantau yang disebut Jetak. Akhirnya tempat bukit batu yang jerjatuh ini sekarang dikenal dengan nama Bukit Kelam. Letaknya di daerah Kabupaten Sintang Kalimantan Barat (arah ke Kabupaten Kapuas Hulu).

Dengan rasa kesal Bujang Beji menghentakkan kaki yang terkena duri tadi kesalahsatu bukit yang ada di sekitarnya. Bukit ini sekarang diberi nama Bukit Rentap. Dengan perasaan marah membara, bujang beji bertekad untuk membalas dendam kepada para dewi khayangan, setelah ia menyelesaikan pekerjaannya. Setelah meredakan rasa marahnya, BUjang beji mengangkat sebuah bukit yang bentuknya memanjang untuk digunakan mencongkel puncak Bukit Batu yang terjatuh tadi. Namun, Bukit Batu itu sudah tertanam dan melekat tanah tempat dia jatuh. Akhirnya bukit panjang yang digunakan mencongkel bukit batu tersebut patah dua. Akhirnya, Bujang Beji gagal memindahkan puncak Bukit Batu dari Nanga Silat untuk menutup hulu Sungai Melawi. Ia sangat marah dan berniat untuk membalas dendam kepada dewi-dewi yang telah menertawakannya itu.

Menanam Pohon Kumpang Mambu

Bujang Beji kemudian menanam pohon kumpang mambu yang akan digunakan sebagai jalan untuk mencapai Kayangan dan membinasakan para dewi. Dalam waktu beberapa hari, pohon itu tumbuh dengan subur dan tinggi menjulang ke angkasa, sampai puncaknya tidak tampak jika dipandang dari bawah. Sebelum memanjat pohon kumpang mambu, Bujang Keji melakukan upacara sesajian adat Bedarak Begelak, yaitu memberikan makan kepada seluruh binatang dan roh jahat di sekitarnya agar tidak menghalangi niatnya dan berharap dapat membantunya sampai ke kayangan untuk membinasakan dewi-dewi tersebut.
Sampai sekarang ritual ini masih dilakukan dalam beberapa upacara di daerah Sintang, namun dengan tujuan baik.
Ayal tak dikata, ternyata dalam upacara tersebut ada binatang yang terlupa dikasih makan oleh Bujang Beji, sehingga tak dapat menikmati sesajiannya dan merasa tidak dihormati. Binatang itu adalah gerombolan sampok (rayap) dan beruang. Mereka sangat marah dan murka, karena merasa diremehkan oleh Bujang Beji. Akhirnya mereka sepakat untuk menggerogoti akar pohon kumpang mambu saat Bujang Beji naik nanti.

Ketika Bujang Beji naik pohon Kumpang Mambu, dan dekat dengan kayangan, gerombolan rayap dan beruiang menggerogoti akar pohon tersebut sampai putus. Pohon tinggi itu terhempas di Danau Luar dan Danau Belidak Kabupaten Kapuas Hulu. Bujang Beji yang ikut terhempas bersama pohon itu mati seketika. Maka gagallah usaha Bujang Beji membinasakan dewi-dewi di kayangan, sedangkan Temenggung Marubai terhindar dari bencana yang direncanakan oleh Bujang Beji dan melanjutkan kehidupannya dengan memimpin wilayah Sintang.
Sebagian masyarakat percaya bahwa dewi kayangan yang menertawakan Bujang Beji sebenarnya adalah suruhan Timanggong Marubai yang mengetahui niat jahat Bujang Beji.

Foto by Sony Alkad
Ditulis kembali dari sumber : Dongeng Sebelum Tidur

Bagikan

Jangan lewatkan

Legenda Bujang Beji dan Timanggong Marubai
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.