Semoga Gubug Kehidupan ini Bisa Menyadarkan Kita

Semoga Gubug Kehidupan ini Bisa Menyadarkan Kita

Gubug kehidupan ini awalnya difoto iseng oleh seorang sahabat. Namun saya membaca foto gubug kehidupan itu sebagai gambaran kehidupan manusia yang penuh dengan kelemahan, rapuh, dan banyak cacatnya ketimbang baiknya. Ini bukan foto gubug derita, tapi foto kehidupan kita yang sesungguhnya. Manusia itu rapuh seperti gubug, jelek seperti gubuk, penuh kekurangan seperti gubug, dan penuh lubang dosa seperti gubug. Bila ada ketegaran, kadang manusia lupa, bahwa itu bisa saja dibalut kesombongan dan kemunafikan. Namun bila kita melihat dengan seksama, maka nampaklah gubug kehidupan dalam diri manusia yang sesungguhnya. Sungguh kesempurnaan itu milik Allah semata dan kita berharap berkah serta ridho Ilahi untuk membaguskan akhlak dan ibadah kita selamanya. Amin Allahumma amin.



Manusia bisa saja mengaku tegar, kuat, kaya, dan serba mampu lainnya. Tapi tetap saja ia hanya gubug yang sebenarnya jelek, reyot, dan rapuh. Memang sewaktu kamu muda, kuat, kaya, terkenal, dan merasa mampu... manusia merasa bisa berdiri walau diantara semak rintangan hidupnya. Dia menganggap mampu dan berkuasa lalu memandang rendah kepada manusia seperti ilalang sekitarnya. Itulah ketegaran manusia yang penuh dengan kesombongan karena ke-aku-an dalam diri manusia. Tapi walau bagaimanapun dia hanya gubug, tidak lebih dari itu. Ingat itu...!!!



Ketika manusia beranjak tua dan banyak rintang yang menyerang (bukan hanya menghadang) manusia mulai goyah. Lalu prahara kehidupan bisa saja menenggelamkan manusia dalam ketidak berdayaan. Pada saat itu ada dua manusia, manusia yang kembali mengingat Tuhan dan manusia yang menyalahkan Tuhan. Kerdilnya pemikiran mulai bermain dalam perasaan dan disitulah ia mulai tertunduk dalam ketidak berdayaan. Yahh dalam ketidak mampuan dan tidak lebih dari itu. Ingat itu...!!!



Manusia semakin renta dalam ketidakberdayaan lalu mulai mengheja ulang sejarahnya dulu yang penuh dengan kebanggaan dan kesombongan. Ketika ia melihat kedalam dirinya, ia mulai menangis dan mencari Tuhan. Padahal Tuhan tidak pernah meninggal manusia. Lalu dimanakah kegagahan kamu, dimanakah keindahan masa mudamu, dimanakah kekayaan dan kemampuan kamu, dimanakah sahabat yang dulunya bersamamu, lalu dimanakah semua kebanggan dan kesombonganmu. Sampai di situ manusia mulai sadar kalau ia sudah jauh tertinggal... dalam kesendirian dan ketidak berdayaan. Namun ingatlah kalau Allah tidak pernah meninggalkan kamu dan menyayangi kamu selamanya. Jangan sampai kita menunggu gubug kehidupan itu roboh dan tertimbun tanah dalam kegelapan sendirian. Seperti itulah dan hanya begitu. Ingat itu...!!!



Semoga iman, amal kebaikan, dan kasih sayang Allah menjadi penolong kita selamanya. Amin Allahumma amin.
Foto by Abdillah selalu

Share this:

Related Posts