Serba serbi budaya, tempat wisata dan adat istiadat dayak borneo

Legenda Bujang Nadi dan Dare Nandung

Prolog Bujang Nadi dan Dare Nandung

Sepenggal sejarah tercecer dipelataran zaman. Mengisahkan ratap tangis karena fitnahan. Kisah sedih bujang nadi dan dare nandung tiada berperi. Dikubur hidup-hidup oleh ayahanda sendiri.

Sepenggal kisah Tang Nunggal

Pada tahun 1296 masehi telah tertutur suatu ketika Ratu Muda Sambas (gelar raja sambas waktu itu) berjalan-jalan meninjau pulau lemukutan yang berada dalam wilayah kerajaannya sambil berburu sekalian bertamasya. Sesampainya di pulau lemukutan mereka memutuskan menginap beberapa hari untuk menikmati pemandangannya yang indah. Ketika malam tiba rombongan mendengar sayup-sayup tangis bayi. Setelah dilakukan pencarian sekitar pulau, diketahui bahwa tangis bayi tersebut berada dalam salah satu bambu. Akhirnya bambu tersebut diambil dan dibawa ke hadapan ratu muda. Betapa kegetnya semua orang, bahwa dalam bamboo tersebut terdapat bayi laki-laki mungil yang tampan dan berperawakan tegap. Sayangnya bayi tersebut hanya memiliki satu gigi seperti gigi labi-labi (kurang lebih mirip gigi kura-kura). Namun karena ratu muda tertarik dan timbul rasa sayang pada anak tersebut, akhirnya anak tersebut di bawa kekerajaan sambas esok harinya dan diberi nama Tang Nunggal (bergigi tunggal).
Masa sesudahnya masyarakat banyak memanggilnya Tan Unggal. Kemungkinan ini karena enak dalam penyebutan saja. Sehingga dalam beberapa versi cerita masyarakat menyebutnya seperti disambung menjadi tanunggal
Singkat cerita Tang Nunggal tumbuh dewasa dan mempunyai perangai tegas (cenderung kejam dan bengis). Perawakannya yang gagah dan kepandaiannya yang tinggi membuat dia menjadi salah satu keluarga istana yang disegani. Selain itu raja yang sangat sayang pada Tang Unggal selalu memenuhi keinginannya. Hidup dimanja dan selalu berkecukupan.



Tang Nunggal menjalankan perintah sesuai hukum kejaan dan bertindak tegas bagi siapa saja yang melanggarnya. Artinya tidak pandang bulu, bahkan tidak segan untuk membunuh, sehingga banyak masyarakat yang takut kepadanya. Dituturkan bahwa kalau ada salah sedikit saja, maka hukum berat bisa menimpa orang tersebut. Oleh karena inilah masyarakat menyebutnya kejam dan bengis.

Tan Unggal (sebutan selanjutnya) berkembang menjadi pemuda gagah nan wibawa, raja mulai tampak sakit-sakitan. Sampai akhirnya raja tak mampu lagi menanggungkan penyakit yang dikandung bandannya. Sang raja pun mangkat dan Tan Unggal berambisi menjadi raja. Dia sadar kalau bukan dari keturunan raja. Dengan berbekal kelicikan dan kesaktiannya, Tan Unggal berhasil menjadi raja dengan menyingkirkan putera mahkota. Sedangkan putera mahkota bersama wazir dan beberapa pengikut setianyanya pergi secara diam-diam menuju sebuah gua dibelakang bukit piantus (sekarang berada di kecamatan sejangkung) kemudian menjadikan tempat tersebut sebagai tempat tinggal mereka sekaligus benteng pertahanan.



Selama memerintah kerajaan, tan unggal berusaha untuk mengamankan kedudukannya, akhirnya dia menjadi raja yang kejam. Ia selalu menutup mata pada setiap kepentingan rakyatnya. Apa pun keinginan Tan Unggal harus selalu dipenuhi. Ia pun tak segan-segan menghukum siapa saja yang berani menghambat atau gagal memenuhi keinginannya atau kepentingannya. Tan Unggal tak pernah mengacuhkan apa pun anggapan orang. Sebagai raja, ia merasa berhak melakukan apa saja, termasuk dalam menikah yang tidak mau mengikuti kebiasaan istana. Tan Unggal menikahi seorang gadis biasa anak rakyat jelata dan dikaruniai tiga orang anak, yaitu Bujang Nadi, Dare Nandung, dan Datok Kulup.
Sebutan bujang untuk anak laki-laki, dare (dara) untuk anak perempuan, dan datok sebutan penghormatan pada orang yang dituakan.

Kisah Bujang Nadi dan Dare Nandung

Bujang Nadi tumbuh jadi bujang yang rupawan. Sementara Dare Nandung tumbuh menjadi dare yang sangat cantik jelita. Kerupawanan Bujang Nadi dan Dare Nandung cukup terkenal sampai ke negeri seberang. Begitu juga halusnya budi pekerti mereka sangat disanjung semua orang. Sungguh anak yang sangat baik budi dan berbakti kepada orang tua.

Namun apa dikata, Tan Unggal tidak mau melihat anaknya berbaur dengan rakyat jelata, karena dianggap tidak sederajat dan membuat aib bagi keluarga kerajaan. Akhirnya Bujang Nadi dan Dare Nandung tak diperkenankan keluar dari lingkungan istana. Sampai-sampai keduanya tak dapat bergaul dengan anak-anak seusianya. Kerap mereka berdua hanya bermain, bercerita, bersenda gurau berdua.
Bujang Nadi sangat gemar memlihara ayam jago, sedang dare nandung sangat senang menenun. Sampai raja Tan Unggal menghadiahi dare nandung alat tenun berlapis emas.
Salah seorang pejabat istana tahu kemurkaan rakyat terhadap rajanya itu. Setiap saat ia berusaha mencari kelemahan raja. Hingga pada suatu ketika, ia mendengar pembicaraan kedua anak sang raja berbicara tentang pernikahan.
Dalam pembicaraan mereka bertuturlah dare nandung kepada abangnya Bujang Nadi. Kakandaku Bujang Nadi, demi bumi dan langit adinda bersumpah, tidak akan menikah apabila tidak dengan jejaka yang mirip seperti kakanda (rupa dan budi pekertinya). Berucap pulalah Bujang Nadi, dare nandung adikku, rembulan dan matahari boleh saja gerhana, tetapi tatap mata kakandamu ini tidak pernah memberikan makna cinta ini untuk seorang perempuan yang berakhir dengan perkawinan, jika perempuan itu, perilaku dan parasnya tidak se elok engkau, oh adikku.



Mendengar itu, sang pejabat istana segera melaporkannya kepada raja. Betapa terkejutnya Tan Unggal mendengar hal itu. Ia pun segera memerintahkan pengawal untuk segera membawa kedua anak itu ke hadapannya. Dan saking malunya, tanpa menghiraukan penjelasan apapun dari kedua anaknya, Tan Unggal langsung memvonis mereka dengan hukuman dikubur hidup-hidup. Tan Unggal tak mau menanggung aib atas perbuatan kedua anaknya itu. Akhirnya Bujang Nadi dan Dare Nandung dikubur hidup-hidup, bersama hewan dan benda kesayangannya, pada sebuah sumur yang ada di atas bukit. Bujang Nadi ditemani ayam jago kesayangannya dan Dare Nandung bersama alat tenun berlapis emas kebanggaannya. Lokasinya berada di Desa Sebedang, dekat Danau Sebedang Kabupaten Sambas. Tempat yang dipercaya masyarakat sebagai makam keduanya sekarang ini diberi nama Bukit Keramat Bujang Nadi Dare Nandung.


Demikianlah kisah sedih Bujang Nadi dan dare nandung, sebuah catatan legenda sedih kakak beradik baik budi berakhir dalam satu liang kubur bersama benda kesayangannya. Sebuah kisah sedih yang terkubur bersama sumpah mereka berdua.
Disekitar makam bujang nadi dan dare nandung masyarakat setempat sering mendengar suara aneh. Beberapa tetua mengatakan jika yang terdengar kokok ayam, itu tandanya Bujang Nadi bermain dengan ayamnya. Dan jika suara yang keluar adalah suara menenun, itu artinya Dare nandung lagi menenun. Bagaimana pun masyarakat banyak menaruh simpati kepada Bujang Nadi Dare Nandung karena dianggap sebagai korban fitnah dan kebengisan ayah kandung sendiri.

Mengingat pembatasan ketat terhadap pergaulan yang diberlakukan pada keduanya, tak menutup kemungkinan Bujang Nadi dan Dare Nandung, yang sama-sama rupawan itu, akhirnya saling mengagumi satu sama lain. Ini hanya perkiraan saja, tidak lebih dari itu.



Sumber foto Irwansyah - Musdalifah Imus - Delik News Kalbar - Viva Histiria 121 - Viva Histiria 121
Referensi: Mister Pangalayo dan Iman Firmansyah

Tambahkan Komentar Sembunyikan

UPDATE VIA EMAIL

© 2017 Planet Borneo - Template Created by goomsite And Otomologi- Proudly powered by Blogger