Pernah dengar gak anda tentang Adat Mangkok Merah? Mungkin sebagian orang mengenali adat mangkok merah melekat dengan tradisi suku Dayak di Kalimantan. Biar gak salah artikan, gak salah penafsiran, gak salah mengkhayalkan, saya kasih bocoran dikit mengenai Adat Mangkok Merah. Mohon bagi pembaca yang lebih mengetahui menambahkan kalau ada kekurangan dan memberi masukan kalau ada kesalahan.

Adat mangkok merah adalah adat yang bersifat sakral dan memaksa untuk mengarahkan masa demi tujuan tertentu, misalnya pada peperangan. Adat mangkok merah diambil dari penamaan alat peraganya (atribut ritual). Pada mulanya adat ini bernama mangkok jaranang yang diambil dari kata jaranang, yaitu sejenis tanaman akar dan mempunyai getah berwarna merah. Getah akar jaranang ini di pergunakan sebagai penganti warna cat merah karena pada waktu itu orang belum mengenal cat. Akar jaranang yang berwarna merah ini dioleskan pada dasar mangkuk bagian dalam, Oleh karena itu ia disebut mangkok merah.

Jaman dahulu apabila dalam suatu kasus pihak pelaku tidak bersedia di selesaikan secara adat maka pihak ahli waris korban yang merasa dihina dan dilecehkan kehormatan, harkat dan martabatnya atas kesepakatan dan musyawarah ahli waris segera melakukan aksi balas dendam melalui pengerahan masa secara adat yang disebut adat mangkok merah. Mangkok merah menjadi alat komunikasi untuk mengadakan perang atau perlawanan terhadap masalah yang sifatnya pelecehan atau penghinaan terhadap ahli waris, seperti halnya pembunuhan. Adat mangkok merah inipun dilakukan setelah jalan damai sudah tidak bisa lagi diusahakan. Artinya keadaannya sangat memaksa, sehingga adat mangkok merah perlu dilaksanakan untuk diantar kebeberapa tempat dan mengabarkan keadaan darurat perang.
Jadi mangkok merah itu bukan mangkok warna merah yang bisa terbang menurut pendapat beberapa orang. Adat mangkok merah itu hanya alat komunikasi yang diantar kebeberapa tempat untuk memberikan kabar bahwa ada keadaan darurat dan perlu ditanggapi secara cepat.
Adapun beberapa alat peraganya adalah sebagai berikut.
  1. Sebuah mangkuk sebagi tempat untuk meletakkan alat paraga lainnya. Dasar mangkuk bagian dalam dioles dengan getah jaranang berwarna merah yang mengandung pengertian “ Pertumpahan darah“.
  2. Bulu atau sayap ayam yang mengandung pengertian cepat dan segera (darurat) seperti terbang.
  3. Tabur atap daun (ujung atap yang terbuat dari daun rumbia) mengandung pengertian bahwa yang membawa berita itu tidak boleh terhambat oleh hujan, badai, dan lain sebagainya karena sudah dibekali dengan payung atap.
  4. Longkot api (bara kayu api bakar yang sudah dipakai untuk memasak di dapur) yang mempunyai pengertian bahwa sipembawa berita tidak boleh terhambat oleh petang/gelap malam hari, karena sudah disedikan penerangan api colok.
Mangkok merah beserta kelengkapannya tadi dibungkus dengan kain. Beberapa orang yang ditunjuk utnuk menyampaikan berita sekaligus mengajak seluruh jajaran ahli waris itu sebelumnya diberikan arahan mengenai maksud dan tujuan adat mangkok merah itu, siapa saja yang harus ditemui, kapan berkumpul, tempat berkumpul dan lain sebagainya. Tentu saja mereka yang membawa berita mangkok merah tersebut tidak boleh menginap (bahkan tidak boleh singah terlalu lama), walau hujan lebat dan badai serta gelap hari sekalipun mereka harus tetap meneruskan perjalanannya.

Secara singkatnya adat mangkok merah seperti itu, jadi bukan mangkok terbang, orang perang bawa mangkok, diantar hantu, atau lain sebagainya. Kalau mau tau lengkapnya silahkan tanya ahlinya. Mohon maaf kalau ada kekurangan dan tolong disempurnakan. Terima kasih.



Sumber Foto utama Boombastis
Referensi: Yohanes Supriyadi

Share this:

Related Posts

Show Disqus Comment Hide Disqus Comment

Disqus Comments